Total Tayangan Halaman

Selasa, 04 November 2025

💻 ICT Transforming Education: Mengajar di Tengah Revolusi Digital

 

 

Halo, pembaca setia Teknologi dan Hati! 🌷

Minggu ini saya akan sedikit sharing mengenai materi mata kuliah Pembelajaran Berbasis TIK, kami mempelajari buku “ICT Transforming Education” karya Jonathan Anderson — sebuah panduan penting dari UNESCO yang membahas bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (ICT) telah mengubah wajah pendidikan di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia-Pasifik.

 🌍 ICT: Lebih dari Sekadar Komputer

Buku ini membuka pandangan bahwa ICT bukan hanya tentang komputer dan internet. ICT meliputi semua alat yang membantu manusia mengumpulkan, menyimpan, memproses, dan berbagi informasi — mulai dari smartphone, kamera digital, hingga papan tulis interaktif. Dengan kata lain, ICT bukan sekadar “alat bantu mengajar,” melainkan ekosistem yang membentuk cara baru kita belajar dan berinteraksi.

 🧩 Transformasi Peran Guru dan Siswa

Salah satu bagian yang paling saya refleksikan adalah pergeseran peran guru dan siswa.

  • Dulu, guru adalah sumber utama pengetahuan.
  • Sekarang, guru menjadi fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan dan menafsirkan informasi secara mandiri.

Sementara itu, siswa kini bukan lagi penerima pasif, tetapi pencipta pengetahuan (knowledge creator) melalui aktivitas kolaboratif dan eksplorasi digital. Saya melihat bahwa peran guru di era ini justru menjadi lebih penting — bukan karena ia menyampaikan semua jawaban, tetapi karena ia membantu siswa menemukan pertanyaan yang tepat.

 🚀 Revolusi Keempat dalam Pendidikan

Buku ini menyebut munculnya “revolusi keempat” — di mana pembelajaran tidak lagi terikat ruang dan waktu.

Konsep seperti:

  • e-learning (pembelajaran elektronik),
  • m-learning (pembelajaran melalui perangkat seluler), dan
  • u-learning (pembelajaran di mana saja dan kapan saja)

menjadi kenyataan dalam kehidupan kita saat ini.

Melalui internet, Google, YouTube, Wikipedia, hingga media sosial, pendidikan telah menjadi jaringan global yang membuka peluang belajar tanpa batas.

 ⚖️ Kesenjangan Digital di Asia-Pasifik

Namun, tidak semua negara menikmati kemajuan yang sama.

Jonathan Anderson menyoroti adanya digital divide — kesenjangan antara mereka yang memiliki akses ICT dan yang tidak.

  • Negara seperti Singapura dan Korea Selatan sudah mencapai indeks ICT di atas 95,
  • sementara Indonesia masih berada di kisaran 84,7 (kategori upper middle income).

Kesenjangan ini tidak hanya soal akses internet, tetapi juga kualitas penggunaan teknologi. Apakah teknologi digunakan hanya untuk hiburan, atau untuk membangun keterampilan berpikir kritis dan kreativitas?

 💡 Keterampilan Abad ke-21: 4C

Buku ini menekankan pentingnya keterampilan 4C bagi siswa abad ke-21:

  1. Critical Thinking – berpikir kritis dan analitis,
  2. Creativity – menghasilkan ide dan solusi baru,
  3. Collaboration – bekerja bersama dalam lingkungan digital,
  4. Communication – mengomunikasikan gagasan secara efektif.

Sebagai pendidik, saya merasa tantangan kita sekarang bukan lagi sekadar mengenalkan teknologi, tetapi mengarahkan penggunaannya agar membentuk manusia yang kreatif, adaptif, dan beretika digital.

 💬 Refleksi Pribadi

Setelah mempelajari materi ini, saya semakin yakin bahwa teknologi hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir.

Kunci transformasi pendidikan tetap berada di tangan guru — bagaimana kita menyalurkan teknologi dengan hati, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti kata Jonathan Anderson, “Education is not only about information, but transformation.”

 📂 Materi Lengkap (PDF)

Untuk teman-teman yang ingin membaca lebih detail ringkasan Bab 1–2 buku ICT Transforming Education, dapat mengunduhnya di tautan berikut:

📎 https://drive.google.com/file/d/1selkgXs8D9G3QXAEHbPs26TTrfOXMOkr/view?usp=sharing 

 

Senin, 03 November 2025

💫 KETIKA TEKNOLOGI MEMBUKA RUANG, TAPI HATI YANG MENYATUKAN

 


Zaman terus bergerak maju. Setiap tahun, kita melihat bagaimana teknologi mengubah cara kita hidup, bekerja, dan belajar. Dalam dunia pendidikan, teknologi telah menjadi jantung dari transformasi pembelajaran. Kita bisa mengajar tanpa dibatasi ruang dan waktu, menghadirkan sumber belajar yang interaktif, dan bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan individu.

Namun di tengah semua kemajuan itu, saya sering merenung: apakah kehadiran teknologi benar-benar mampu menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan?

🌍 Kelas yang Luas tapi Sunyi

Pernah suatu kali, saya mengajar secara daring di tengah pandemi. Layar laptop saya menampilkan belasan wajah mahasiswa di dalam kotak kecil. Beberapa menatap kamera dengan penuh semangat, beberapa lainnya tampak pasif, bahkan ada yang memilih mematikan kamera dan mikrofon. Semua “hadir,” tapi tidak semua benar-benar hadir.

Momen itu membuat saya berpikir: kehadiran digital ternyata tidak selalu berarti keterlibatan yang sesungguhnya. Teknologi memang menghadirkan ruang pertemuan, tetapi hanya hati yang bisa menciptakan hubungan.

Sebagai pendidik, saya merasa tertantang untuk tidak hanya menjadi “penyampai materi,” tetapi juga penjaga makna. Saya mulai melakukan hal-hal kecil—menyapa mahasiswa satu per satu, menanyakan kabar mereka, memulai kelas dengan refleksi singkat, atau menutup perkuliahan dengan pertanyaan terbuka yang menggugah rasa ingin tahu.

Ternyata, langkah-langkah sederhana itu mengubah suasana kelas. Mahasiswa menjadi lebih terbuka, aktif berpendapat, dan merasa diperhatikan. Saya belajar bahwa empati dan perhatian kecil mampu menembus batas layar.

💡 Teknologi yang Berhati

Teknologi dalam pembelajaran sejatinya bukan musuh bagi kemanusiaan, melainkan jembatan. Ia membantu guru menjangkau mereka yang jauh, menyediakan akses bagi yang terbatas, dan membuka kesempatan bagi pembelajaran tanpa henti.

Namun teknologi akan kehilangan maknanya bila tidak diiringi dengan nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, pendidik berperan sebagai “penyaring nilai”: memastikan bahwa kemajuan digital tetap berpihak pada manusia, bukan sebaliknya.

Saya teringat sebuah ungkapan, “Teaching is not just about delivering content, but touching lives.” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap algoritma, aplikasi, atau sistem daring, tetap ada manusia yang membutuhkan perhatian, pemahaman, dan kasih.

💬 Belajar Sepanjang Hayat, dengan Hati dan Teknologi

Di era digital ini, peran guru bergeser dari sumber pengetahuan menjadi fasilitator, mentor, bahkan sahabat belajar. Guru harus terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi. Tapi di balik semua perubahan itu, satu hal yang tidak boleh hilang: hati yang tulus untuk mendidik.

Saya percaya, masa depan pendidikan akan ditentukan oleh keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan salah satunya yang menang, melainkan bagaimana keduanya berjalan seiring: teknologi memberi daya jangkau, dan hati memberi arah.

Mendidik di era digital bukan hanya soal menguasai perangkat dan platform pembelajaran, tetapi juga soal bagaimana kita tetap manusiawi di tengah kecanggihan mesin.
Teknologi bisa membuka ruang—ruang belajar, ruang akses, ruang kesempatan—tapi hanya hati yang bisa menyatukan semua itu menjadi pengalaman yang bermakna.

💻💖
Karena sejatinya, pendidikan yang sejati bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menyentuh kehidupan dan menumbuhkan jiwa.

MENGAJAR DENGAN TEKNOLOGI, MEMBIMBING DENGAN HATI

 



Dunia pendidikan sedang berubah dengan sangat cepat. Kita hidup di masa ketika teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Platform pembelajaran daring, aplikasi kolaboratif, kecerdasan buatan—semuanya hadir membawa peluang besar bagi dunia pendidikan.

Namun di tengah semua kemajuan itu, saya sering merenung: apakah kemajuan teknologi selalu sejalan dengan kemajuan hati manusia?

Sebagai pendidik, saya percaya bahwa teknologi hanyalah jembatan. Ia memudahkan kita menjangkau peserta didik, membuka akses informasi tanpa batas, dan menciptakan pengalaman belajar yang menarik. Tapi yang menumbuhkan makna, semangat, dan empati tetaplah hati manusia.

Dalam setiap interaksi di kelas—baik tatap muka maupun daring—saya belajar bahwa sentuhan personal, perhatian kecil, dan empati guru masih menjadi inti dari pendidikan yang sejati. Teknologi bisa membantu saya mengajar lebih efektif, tapi hati yang tuluslah yang membantu saya membimbing lebih manusiawi.

Melalui blog ini, saya ingin berbagi perjalanan saya sebagai pembelajar sepanjang hayat: tugas-tugas perkuliahan S3, refleksi pribadi, serta berbagai gagasan tentang bagaimana teknologi dan hati bisa berjalan beriringan dalam mendidik generasi masa depan.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tapi juga tentang menyentuh kehidupan dan membentuk karakter.

Selamat datang di blog saya — Teknologi dan Hati: Mendidik di Era Digital. 💻💖

Selasa, 08 Januari 2019

EVALUASI MEDIA PEMBELAJARAN



Alasan pentingnya melakukan evaluasi terhadap media pembelajaran yaitu:

1.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi siswa
Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua kemungkinan:
a.       Hasil bagi siswa yang memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, tentunya kepuasan ini ingin diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya hasilnya menurun.
b.      Hasil bagi siswa yang tidak memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan giat belajar. Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan menjadi putus asa.
2.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi orang tua
a.    Mengetahui kemajuan belajar peserta didik.
b.    Membimbing kegiatan belajar peserta didik di rumah.
c.    Menentukan tindak lanjut pendidikan yang sesuai dengan kemampuan anaknya.
d.   Memperkirakan kemungkinan berhasil tidaknya anak tersebut dalam bidang pekerjaannya.
3.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi guru
a.    Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan.
b.    Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum.
c.    Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut.
d.   Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.
4.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi satuan pendidikan
a.       Bagi administrator sekolah, hasil evaluasi dapat dimanfaatkan untuk:
1)   Menentukan penempatan peserta didik.
2)   Menentukan kenaikan kelas.
3)   Pengelompokan peserta didik di sekolah mengingat terbatasnya fasilitas pendidikan yang tersedia serta indikasi kemajuan peserta didik pada waktu mendatang.
b.      Bagi kepala sekolah, hasil evaluasi dapat dimanfaatkan untuk:
1)   Untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa.
2)   Untuk memikirkan upaya – upaya pembinaan para guru dan siswa berdasarkan pendapat, gagasan, saran, aspirasi, dari berbagai pihak (guru, siswa, orang tua) yaitu melengkapi sarana belajar.
3)   Meningkatksn profesionalitas tenaga guru, pelayan sekolah, perpustakaan sekolah, tata tertib sekolah, disiplin kerja, pengawasan dll.
c.    Bagi penelitian pendidikan, hasil evaluasi dapat dimanfaatkan sebagai data yang sangat diperlukan oleh para peneliti pendidikan.
5.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi pemerintah

    Memberikan informasi yang valid tentang kinerja kebijakan, program & kegiatan yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai & kesempatan telah dapat dicapai
    Memberikan sumbangan pada klarifikasi & kritik terhadap nilai-nilai yg mendasari pemilihan tujuan & target
    Melihat peluang adanya alternatif kebijakan, program, kegiatan yang lebih tepat, layak, efektif, efisien
    Memberikan umpan balik terhadap kebijakan, program dan proyek
    Menjadikan kebijakan, program dan proyek mampu mempertanggungjawabkan penggunaan dana publik
    Mambantu pemangku kepentingan belajar lebih banyak mengenai kebijakan, program dan proyek
    Dilaksanakan berdasarkan kebutuhan pengguna utama yang dituju oleh evaluasi
    Negosiasi antara evaluator dan pengguna utama yang dituju oleh evaluasi


Prosedur / tahapan evaluasi media pembelajaran


   1. Evaluasi satu lawan satu

Evaluasi media tahap satu lawan satu atau yang disebut dengan istilah one to one evaluation, dilaksanakan dengan cara cara memilih satu atau lebih siswa yang dapat mewakili populasi target dari media yang anda buat. Sajikan media tersebut kepada mereka secara individual. Kedua orang tersebut hendaknya satu dari populasi taret yang kemampuan umumnya sedikit dibawah rata-rata dan satu orang lagi diatas rata-rata.
Prosedur evaluasi media tahap satu lawan satu ini adalah sebagai berikut:

a. Jelaskan kepada siswa bahwa anda sedang merancang suatu media baru dan anda ingin mengetahui bagaimana reaksi mereka terhadap media yang dibuat tersebut.
b. Sampaikan bahwa apabila mereka berbuat salah bukan karena kekurangan mereka tetapi karena kekurangsempurnaan media tersebut yang perlu diperbaiki.
 c. Usahakan agar mereka bersikap relaks dan bebas mengemukakan pendapatnya tentang media tersebut.
 d. Selanjutnya, berikan tes awal untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pengalaman siswa terhadap topik yang dimendiakan.
 e. Sajikan media dan catat berapa lama waktu yang anda butuhkan atau dibutuhkan siswa untuk menyajikan / mempelajari media tersebut. Catat pula reaksi siswa dan bagian yang sulit untuk dipahami.
 f. Berikan tes yang mengkur keberhasilan media tersebut (post test)
g.  Analisis informai yang terkumpul

2. Evaluasi kelompok kecil
Pada tahap ini, media perlu dicobakan pada 10-20 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa yang dipilih hendaknya mencerminkan karakteristik populasi. Usahakan sampel tersebut terdiri dari siswa yang kuran pandai, sedang, dan pandai, laki-laki dan perempuan, berbagai usia dan latarbelakang.
Prosedur yang perlu ditempuh, adalah:

    Jelaskan bahwa media tersebut berada pada tahap formatif dan memerlukan umpan balik untuk menyempurnakannya
    Berikan tes awal (pra test) untk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa tentang topik yang dimediakan
    Sajikan media atau minta kepada siswa untuk mempelajari media tersebut
    Catat waktu yang diperlukan untuk semua bentuk umpan balik (langsung ataupun tidak langsung) selama penyajian media
    Berikan tes untuk mengetahui sejauh mana tujuan bisa tercapai (post test)
    Berikan kuisioner dan minta siswa untuk mengisinya, apabila mungkin adakan diskusi yang mendalam dengan beberapa siswa.
    Analisis data-data yang terkumpul. Atas dasar umpan balik semua ini media disempurnakan.

3. Evaluasi lapangan (field evaluation)
Adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan, usahakan memperoleh situasi yang semirip mungkin dengan situasi yang sebenrnya. Setelah melalui dua tahap evaluasi tentulah media yang kita buat sudah mendekati kesempurnaannya, namun dengan itu masih harus dibuktikan. Melalui evaluasi lapangan itulah kebolehan media yang kita buat itu diuji.
Pilihlah sekitar 30 siswa dengan berbagai karekteristik (tingkat kepandaian, kelas, latarbelakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar, dsb) sesuai dengan karekteristik populasi sasaran.
Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

    Mula-mula, pilih siswa yang benar-benar mewakili populasi target
    Jelaskan maksud uji lapangan kepada siswa dan hal yang diharapkan di akhir kegiatan
    Berikan tes awal untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan siswa terhadap topik yang dimedikan
    Sajikan media tersebut kepada mereka, bentuk penyajian tetu sesuai dengan rencana pembuatannya. Untuk prestasi kelompok besar, untuk kelompok kecil atau belajar mandiri
    Catat semua respon yang muncul dari siswa selama sajian. Begitu pula waktu yang diperlukan
    Berikan tes untuk mengukur seberapa jauh pencapaian hasil belajar siswa setelah sajian media tersebut. Hasil tes ini dibandingkan dengan hasil tes awal akan menunjukkan seberapa efektif dan efisisen media yang anda buat tersebut
    Berkan kuisioner untuk mengetahui pendapat atau sika mereka terhadap media tersebut dan sajuian ang diterimanya
    Ringkas dan analissi data yang anda peroleh dengan kegiatan tadi, kemampun aal, skor tes awal dan tes akhir, waktu yang diperlukan, perbikan bagian-bagian yang sulit, dan pengayaan yang diperluka, kecepatan sajian dsb
    Atas dasar itu media diperbaiki dan semaikin disempurnakan.

Rabu, 23 April 2014

PENDIDIKAN INKLUSIF... Apakah Sudah Merupakan Pilihan yang Tepat untuk Anak Berkebutuhan Khusus?




Mungkin pertanyaan itu ya yang terlintas di benak anda saat mendengar kata tentang Inklusi... sebenarnya pendidikan inklusi itu apa sih?
Pendidikan inklusi merupakan model pendidikan dimana dalam satu sekolah melayani anak-anak non ABK /anak normal dan anak berkebutuhan khusus (ABK), supaya anak-anak berkebutuhan khsusus ini dapat memperoleh pelayanan di sekolah-sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggalnya bersama anak-anak normal lainnya. Pelayanan pendidikannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didiknya. Jadi tidak ada alasan bahwa ABK tidak bersekolah karena sekolahnya jauh lah atau malu sekolah di SLB lah atau alasan-alasan lainnya deh...
Bila benar-benar ditelaah secara mendalam, tujuan dari pendidikan inklusi merupakan tujuan yang sangat mulia, karena pemerintah sudah memikirkan mengenai pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Jadi gak pandang bulu baik yang anak berkebutuhan khusus (ABK), anak normal, dari suku mana pun, agamanya apa aja boleh masuk di sekolah inklusi ini, dari golongan sosial ekonomi mana aja boleh masuk di sekolah ini. Sungguh sangat mulia jika semua sekolah di Indonesia sudah menerapkan pendidikan inklusi.

Pada awalnya saat sekolah inklusi itu mulai buming di Solo, saya sebagai guru SLB saat itu kurang yakin dan kurang percaya terhadap layanan pendidikan inklusi. Saya berpikir, menangani anak normal dalam satu kelas saja sangat banyak kendala yang dialami, bagaimana jadinya saat anak berkebutuhan khusus dengan kebutuhan yang berbeda dan kompleks harus masuk dalam kelas yang sudah memiliki banyak masalah itu. Itu saya lihat dari sudut pandang saya sebagi guru SLB yang notabennya di sekolah kami itu melayani anak berkebutuhan khusus secara intensif dengan kelas one on one.
Mungkin pandangan beberapa orang tua pun bisa seperti itu, bahkan kadang orang tua ada yang berfikir jangan-jangan saat di kelas inklusif anak saya tidak diperhatikan, atau anak saya menjadi bahan olok-olokan teman-temannya, atau anak saya akan melakukan hal-hal yang mengganggu teman-temannya yang lain dan ketakutan-ketakutan lain yang biasanya membayangi sebagian orang tua.
Wajarlah sebagai orang tua khawatir terhadap pendidikan dan perkembangan anaknya. Sebagai guru pun saya khawatir dan sangat menyyangkan bila anak berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan yang salah atau kurang sesuai, sebab potensi yang dimilikinya menjadi tidak tergali dan tidak dapat berkembang secara optimal.

Nah, mulai saat ini kita harus mengubah pandangan negatif tentang sekolah inklusi tersebut, sebab pada dasarnya adanya sekolah inklusi memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu seperti yang sudah saya sampaikan di atas sehingga tidak ada lagi diskriminasi antara anak berkebutuhan khusus dengan anak non ABK. Yang perlu diingat adalah bahwa tujuan pendidikan yaitu menyiapkan anak hidup secara wajar dan layak di masyarakat, bukan malah memisahkan mereka dari kehidupan masyarakat normal.
Dengan keanekaragaman peserta didik yang ada di sekolah inklusi akan menjadikan mereka lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya dan lebih menghargai keberagaman (bagi anak normal). Sementara bagi anak berkebutuhan khusus, mereka akan belajar bersosialisasi, berinteraksi, dan belajar dari orang lain sebab bagaimana pun kondisi mereka pada akhirnya mereka akan tetap kembali ke masyarakat.

Lalu bagaimana pelaksanaan pendidikan inklusi di Indonesia saat ini?
Pada kenyataannya memang sekolah inklusi di Indonesia belum merata. Buktinya saya ke luar Pulau Jawa dikit aja, banyak yang belum tau Inklusi itu apa sih...
Pelayanan pendidikannya juga masih terbatas karena memang sangat banyak yang perlu disiapkan mulai dari Sumber daya manuasianya, sarana prasarana, fasilitas, dan kesiapan masyarakat untuk menerima kehadiran sekolah inklusi di sekitar mereka. (lain waktu akan kita bahas satu per satu). Mari kita terus mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan sekolah inklusi ini, jangan dicemooh... Ini adalah niatan mulia dan salah satu upaya meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan di Indonesia.

Bagi orang tua yang akan menyekolahkan anaknya di sekolah inklusi sedikit saran saya pilihlah sekolah inklusif yang benar-benar sudah memberikan pelayanan inklusif secara maksimal. Kenali sekolahnya, lihat SDM yang ada di dalamnya, lihat sarana prasarana serta fasilitas yang ada sudah memenuhi untuk kebutuhan pendidikan anak anda atau belum, dan berpartisipasilah secara aktif dalam penyusunan program individual anak, dan pantaulah setiap perkembangan anak anda. Jangan sampai orang tua hanya menuntut sekolah saja tanpa turut berperan aktif mengembangkan potensi anak. Mulailah mengadakan komunikasi dan kerjasama yang baik antara anda sebagi orang tua dan pihak-pihak terkait di sekolah.
Melalui komunikasi dan kerjasama yang baik antara semua pihak, perkembangan dan potensi anak anda akan mengalami peningkatan yang Luar Biasa.... :)

Sabtu, 19 April 2014

KENANGAN MANIS HARI KARTINI


SISWA-SISWA SLB AUTIS ALAMANDA
SISWA-SISWA SLB AUTIS ALAMANDA



Tahun 2014 ini adalah tahun pertamaku merayakan Hari Kartini di Kota Mataram. Belum tau sih bagaimana perayaan hari kartini di Kota Mataram ini...
Teringat dua tahun lalu ketika masih diberi kesempatan untuk merayakan Hari Kartini bersama siswa-siswa tercinta di SLB Autis Alamanda... Dengan segala keterbatasan mereka, mereka berusaha untuk turut memeriahkan Hari Kartini. Mungkin sebagian dari mereka kurang paham, bahkan sulit untuk memahami apa makna Hari Kartini tersebut. Tapi dengan penuh kesabaran guru-guru di SLB Autis Alamanda memberikan pengarahan dan pengertian tentang makna Hari Kartini.
Sungguh kami sebagai pendidik di sekolah luar biasa sangat berusaha agar semua yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah lain dalam memperingati hari kartini, bisa juga dilakukan oleh anak-anak kami di SLB Autis Alamanda... 
Dan ternyata hasilnya pun luar biasa... Semua siswa turut berpartisipasi. Walaupun ada sebagian siswa yang masih memerlukan bantuan dan arahan penuh dari guru dalam mengikuti setiap kegiatan. Orang tua pun turut hadir sebagai bentuk dukungan orang tua terhadap anak-anaknya dan dukungan terhadap kegiatan yang dilakukan sekolah... 
Gurat-gurat keceriaan tampak pada setiap siswa dan orang tua yang turut berpartisipasi di hari itu. Berbagai perlombaan dan rangkaian kegiatan bersama menambah hangatnya suasana kekeluargaan di SLB Autis Alamanda. Sungguh moment yang tak terlupakan...
Memang bukan untuk kali petama siswa-siswa SLB Autis Alamanda turut berpartisipasi memperingati Hari Kartini, namun saat itu adalah kali pertama saya merasakan kemeriahan Hari Kartini di tengah hangatnya keluarga SLB Autis Alamanda...


GURU-GURU SLB AUTIS ALAMANDA




Jumat, 21 Juni 2013

TERAPI PERMAINAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)






Perlu diketahui dan disadari bahwa Anak Berkebutuham Khusus (ABK) memiliki kemampuan yang tidak sama dengan anak-anak pada umumnya. Kekhusussan dari ABK terutama bagi mereka yang mengalami gangguan dalam perkembangan, cenderung mempunyai kelainan atau hambatan dalam fungsi intelektual, fisik, emosi, maupun social sehingga potensi dirinya untuk berkreativitas secara maksimal dalam hidup mengalami gangguan. Oleh sebab itu, sebagai seorang pendidik yang bergerak dalam bidang pendidikan khusus perlu memberikan fasilitas baik berupa pembelajaran ataupun terapi yang tujuannya untuk mengembangkan aspek-aspek berupa fisik, intelektual, emosi, dan social secara optimal pada diri setiap ABK sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya.
Kali ini, saya akan mengangkat satu tema pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dimana pembelajaran ini berupa suatu terapi yang tujuannya mengembangkan aspek-aspek fisik, intelektual, emosi, dan social pada ABK secara optimal. Terapi ini adalah terapi permainan.
Terapi permainan merupakan salah satu dari terapi psikologis dimana dalam pelaksanaannya factor ekspresi gerak menjadi titik tumpuan bagi analisis terapeutik. Terapi permaianan dapat dilakukan dengan berbagai variasi permainan dan memanfaatkan berbagai media yang menarik sehingga menimbulkan kesenangan, kenikmatan, dan tanpa unsur paksaan serta menimbulkan motivasi diri bagi orang yang memperoleh terapi ini.
Terapi permainan bagi anak berkebtuhan khusus, terutama bagi anak dengan gangguan perkembangan harus memiliki tujuan dan sasaran yang jelas. Adapun tujuan dari terapi permainan antara lain :

  1. Mengembangkan aspek fisik, meliputi perkembangan kekuatan organ tubuh, meningkatkan ketahan otot-otot dan organ tubuh, serta pencegahan dan perbaikan sikap tubuh yang kurang baik.
  2. Mengembangkan aspek emosi, meliputi kemampuan menjadi pemimpin, kemampuan menerima kekalahan, kemampuan bermain secara sportif dll.
  3. Mengembangkan aspek mental, meliputi keberanian, percaya diri, dan kemampuan mengeluarkan pendapat di dalam kelompok.
  4. Mengembangkan aspek intelektual, meliputi pengenalan angka dan huruf, kemampuan menghitung serta kemampuan menyelesaikan masalah dan komunikasi dengan anggota lain dalam permainan
  5.  Mengembangkan aspek social, meliputi  menjalin komunikasi, kerjasama, dan interaksi yang baik dan kompak dalam satu kelompok.



Sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa dalam permaian labih menitik beratkan pada aspek gerak, maka sasaran Anak Berkebutuhan Khusus  (ABK) yang dapat diberikan terapi ini harus diperhatikan juga. Sasaran tersebut antara lain :


  1. Anak dengan gangguan perkembangan ringan agar memiliki kemampuan koordinasi motorik yang lebih baik, meningkatkan kemampuan persepsi, meningkatkan berkreasi, berimajinasi, dan berfantasi, agar dapat mengikuti pelajaran yang formal, serta agar dapat berprestasi.
  2. Anak dengan gangguan perkembangan sedang yaitu untuk meningkatkan koordinasi gerak, meingkatkan kemampuan motorik halus, serta meningkatkan kemapuan persepsi dan sensori motorik
  3. Anak dengan gangguan perkembangan berat dan sngat berat dengan sasaran terapi permainannya harus lebih berhati-hati, agar mereka dapat memiliki gerakan dasar (locomotor), mempergunakan persepsi gerakannya dalam kehidupan sehari-hari, ikut menikmati suasana kegembiraan dalam permainan, bersosialisasi secara maksimal dengan lingkungannya.


💻 ICT Transforming Education: Mengajar di Tengah Revolusi Digital

    Halo, pembaca setia  Teknologi dan Hati ! 🌷 Minggu ini saya akan sedikit sharing mengenai materi mata kuliah  Pembelajaran Berbasis TIK...