Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Tugas dan Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas dan Refleksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2025

💻 ICT Transforming Education: Mengajar di Tengah Revolusi Digital

 

 

Halo, pembaca setia Teknologi dan Hati! 🌷

Minggu ini saya akan sedikit sharing mengenai materi mata kuliah Pembelajaran Berbasis TIK, kami mempelajari buku “ICT Transforming Education” karya Jonathan Anderson — sebuah panduan penting dari UNESCO yang membahas bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (ICT) telah mengubah wajah pendidikan di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia-Pasifik.

 🌍 ICT: Lebih dari Sekadar Komputer

Buku ini membuka pandangan bahwa ICT bukan hanya tentang komputer dan internet. ICT meliputi semua alat yang membantu manusia mengumpulkan, menyimpan, memproses, dan berbagi informasi — mulai dari smartphone, kamera digital, hingga papan tulis interaktif. Dengan kata lain, ICT bukan sekadar “alat bantu mengajar,” melainkan ekosistem yang membentuk cara baru kita belajar dan berinteraksi.

 🧩 Transformasi Peran Guru dan Siswa

Salah satu bagian yang paling saya refleksikan adalah pergeseran peran guru dan siswa.

  • Dulu, guru adalah sumber utama pengetahuan.
  • Sekarang, guru menjadi fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan dan menafsirkan informasi secara mandiri.

Sementara itu, siswa kini bukan lagi penerima pasif, tetapi pencipta pengetahuan (knowledge creator) melalui aktivitas kolaboratif dan eksplorasi digital. Saya melihat bahwa peran guru di era ini justru menjadi lebih penting — bukan karena ia menyampaikan semua jawaban, tetapi karena ia membantu siswa menemukan pertanyaan yang tepat.

 🚀 Revolusi Keempat dalam Pendidikan

Buku ini menyebut munculnya “revolusi keempat” — di mana pembelajaran tidak lagi terikat ruang dan waktu.

Konsep seperti:

  • e-learning (pembelajaran elektronik),
  • m-learning (pembelajaran melalui perangkat seluler), dan
  • u-learning (pembelajaran di mana saja dan kapan saja)

menjadi kenyataan dalam kehidupan kita saat ini.

Melalui internet, Google, YouTube, Wikipedia, hingga media sosial, pendidikan telah menjadi jaringan global yang membuka peluang belajar tanpa batas.

 ⚖️ Kesenjangan Digital di Asia-Pasifik

Namun, tidak semua negara menikmati kemajuan yang sama.

Jonathan Anderson menyoroti adanya digital divide — kesenjangan antara mereka yang memiliki akses ICT dan yang tidak.

  • Negara seperti Singapura dan Korea Selatan sudah mencapai indeks ICT di atas 95,
  • sementara Indonesia masih berada di kisaran 84,7 (kategori upper middle income).

Kesenjangan ini tidak hanya soal akses internet, tetapi juga kualitas penggunaan teknologi. Apakah teknologi digunakan hanya untuk hiburan, atau untuk membangun keterampilan berpikir kritis dan kreativitas?

 💡 Keterampilan Abad ke-21: 4C

Buku ini menekankan pentingnya keterampilan 4C bagi siswa abad ke-21:

  1. Critical Thinking – berpikir kritis dan analitis,
  2. Creativity – menghasilkan ide dan solusi baru,
  3. Collaboration – bekerja bersama dalam lingkungan digital,
  4. Communication – mengomunikasikan gagasan secara efektif.

Sebagai pendidik, saya merasa tantangan kita sekarang bukan lagi sekadar mengenalkan teknologi, tetapi mengarahkan penggunaannya agar membentuk manusia yang kreatif, adaptif, dan beretika digital.

 💬 Refleksi Pribadi

Setelah mempelajari materi ini, saya semakin yakin bahwa teknologi hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir.

Kunci transformasi pendidikan tetap berada di tangan guru — bagaimana kita menyalurkan teknologi dengan hati, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti kata Jonathan Anderson, “Education is not only about information, but transformation.”

 📂 Materi Lengkap (PDF)

Untuk teman-teman yang ingin membaca lebih detail ringkasan Bab 1–2 buku ICT Transforming Education, dapat mengunduhnya di tautan berikut:

📎 https://drive.google.com/file/d/1selkgXs8D9G3QXAEHbPs26TTrfOXMOkr/view?usp=sharing 

 

Senin, 03 November 2025

💫 KETIKA TEKNOLOGI MEMBUKA RUANG, TAPI HATI YANG MENYATUKAN

 


Zaman terus bergerak maju. Setiap tahun, kita melihat bagaimana teknologi mengubah cara kita hidup, bekerja, dan belajar. Dalam dunia pendidikan, teknologi telah menjadi jantung dari transformasi pembelajaran. Kita bisa mengajar tanpa dibatasi ruang dan waktu, menghadirkan sumber belajar yang interaktif, dan bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan individu.

Namun di tengah semua kemajuan itu, saya sering merenung: apakah kehadiran teknologi benar-benar mampu menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan?

🌍 Kelas yang Luas tapi Sunyi

Pernah suatu kali, saya mengajar secara daring di tengah pandemi. Layar laptop saya menampilkan belasan wajah mahasiswa di dalam kotak kecil. Beberapa menatap kamera dengan penuh semangat, beberapa lainnya tampak pasif, bahkan ada yang memilih mematikan kamera dan mikrofon. Semua “hadir,” tapi tidak semua benar-benar hadir.

Momen itu membuat saya berpikir: kehadiran digital ternyata tidak selalu berarti keterlibatan yang sesungguhnya. Teknologi memang menghadirkan ruang pertemuan, tetapi hanya hati yang bisa menciptakan hubungan.

Sebagai pendidik, saya merasa tertantang untuk tidak hanya menjadi “penyampai materi,” tetapi juga penjaga makna. Saya mulai melakukan hal-hal kecil—menyapa mahasiswa satu per satu, menanyakan kabar mereka, memulai kelas dengan refleksi singkat, atau menutup perkuliahan dengan pertanyaan terbuka yang menggugah rasa ingin tahu.

Ternyata, langkah-langkah sederhana itu mengubah suasana kelas. Mahasiswa menjadi lebih terbuka, aktif berpendapat, dan merasa diperhatikan. Saya belajar bahwa empati dan perhatian kecil mampu menembus batas layar.

💡 Teknologi yang Berhati

Teknologi dalam pembelajaran sejatinya bukan musuh bagi kemanusiaan, melainkan jembatan. Ia membantu guru menjangkau mereka yang jauh, menyediakan akses bagi yang terbatas, dan membuka kesempatan bagi pembelajaran tanpa henti.

Namun teknologi akan kehilangan maknanya bila tidak diiringi dengan nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, pendidik berperan sebagai “penyaring nilai”: memastikan bahwa kemajuan digital tetap berpihak pada manusia, bukan sebaliknya.

Saya teringat sebuah ungkapan, “Teaching is not just about delivering content, but touching lives.” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap algoritma, aplikasi, atau sistem daring, tetap ada manusia yang membutuhkan perhatian, pemahaman, dan kasih.

💬 Belajar Sepanjang Hayat, dengan Hati dan Teknologi

Di era digital ini, peran guru bergeser dari sumber pengetahuan menjadi fasilitator, mentor, bahkan sahabat belajar. Guru harus terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi. Tapi di balik semua perubahan itu, satu hal yang tidak boleh hilang: hati yang tulus untuk mendidik.

Saya percaya, masa depan pendidikan akan ditentukan oleh keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan salah satunya yang menang, melainkan bagaimana keduanya berjalan seiring: teknologi memberi daya jangkau, dan hati memberi arah.

Mendidik di era digital bukan hanya soal menguasai perangkat dan platform pembelajaran, tetapi juga soal bagaimana kita tetap manusiawi di tengah kecanggihan mesin.
Teknologi bisa membuka ruang—ruang belajar, ruang akses, ruang kesempatan—tapi hanya hati yang bisa menyatukan semua itu menjadi pengalaman yang bermakna.

💻💖
Karena sejatinya, pendidikan yang sejati bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menyentuh kehidupan dan menumbuhkan jiwa.

MENGAJAR DENGAN TEKNOLOGI, MEMBIMBING DENGAN HATI

 



Dunia pendidikan sedang berubah dengan sangat cepat. Kita hidup di masa ketika teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Platform pembelajaran daring, aplikasi kolaboratif, kecerdasan buatan—semuanya hadir membawa peluang besar bagi dunia pendidikan.

Namun di tengah semua kemajuan itu, saya sering merenung: apakah kemajuan teknologi selalu sejalan dengan kemajuan hati manusia?

Sebagai pendidik, saya percaya bahwa teknologi hanyalah jembatan. Ia memudahkan kita menjangkau peserta didik, membuka akses informasi tanpa batas, dan menciptakan pengalaman belajar yang menarik. Tapi yang menumbuhkan makna, semangat, dan empati tetaplah hati manusia.

Dalam setiap interaksi di kelas—baik tatap muka maupun daring—saya belajar bahwa sentuhan personal, perhatian kecil, dan empati guru masih menjadi inti dari pendidikan yang sejati. Teknologi bisa membantu saya mengajar lebih efektif, tapi hati yang tuluslah yang membantu saya membimbing lebih manusiawi.

Melalui blog ini, saya ingin berbagi perjalanan saya sebagai pembelajar sepanjang hayat: tugas-tugas perkuliahan S3, refleksi pribadi, serta berbagai gagasan tentang bagaimana teknologi dan hati bisa berjalan beriringan dalam mendidik generasi masa depan.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tapi juga tentang menyentuh kehidupan dan membentuk karakter.

Selamat datang di blog saya — Teknologi dan Hati: Mendidik di Era Digital. 💻💖

Selasa, 19 Maret 2013

KREATIVITAS DAN PENGEMBANGAN KREATIVITAS MENURUT AL-QUR’AN SURAT AN-NAHL AYAT 78 YANG DIIMPLEMENTASIKAN DALAM TAMAN KANAK-KANAK (TK)

LATAR BELAKANG

“… dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apa pun dan Dia Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (Q.s. An-Nahl [16]: 78).

Dalam paper ini, penulis mengambil tema pengembangan kreativitas menurut Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 78 yang diimplementasikan dalam pendidikan taman kanak-kanak. Surat An-Nahl ayat 78 telah dapat dijadikan patokan dalam pengembangan kreativitas bagi anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Hal ini dikarenakan dalam surat tersebut menekankan kemampuan manusia yakni akal (kognisi), indra (afeksi), dan nurani (hati). Tiga komponen itulah yang akan mempengaruhi perilaku seorang anak(psikomotorik), sehingga dalam awal pendidikannya yaitu pada masa pra sekolah (masa taman kanak-kanak) ke¬tiga potensi tersebut harus dikem¬bangkan secara seimbang. Apabila salah satu dari ketiga potensi itu tidak seimbang maka seseorang akan tumbuh secara tidak normal.
Semua kemampuan yang Allah SWT berikan (sesuai dengan Q.S An-Nahl : 78) tersebut dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan kreativitas manusia khususnya kreativitas seorang anak. Pada masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan sikap initiative versus guilt (inisiatif dihadapkan pada rasa bersalah). Anak-anak yang mendapat lingkungan pengasuhan dan pendidikan yang baik, akan mampu mengembangkan sikap kreatif; antusias untuk bereksplorasi, bereksperimen, berimajinasi, serta berani mencoba dan mengambil resiko. Namun, semua itu bergantung pada lingkungan belajar anak; apakah memang kondusif untuk mencapai perkembangan tersebut atau tidak. Bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal sehingga pada masa tersebut sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan
Dunia anak adalah dunia bermain, dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Jadi, sistem pembelajaran di taman kanak-kanak harus dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak yaitu melalui bermain dan melakukan aktivitas-aktivitas menarik yang dapat merangsang dan memupuk kreativitas anak sesuai dengan potensi yang dimiliki untuk pengembangan dirinya sejak usia dini. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar.

ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Dalam paper ini penulis mengambil judul “Kreativitas dan Pengembangan Kreativitas Menurut Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 78 yang Diimplementasikan dalam Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK)” karena kreativitas manusia seharusnya dikembangkan sadini mungkin. Oleh sebab itu, lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap pengembangan kreativitas anak samasa anak tersebut belum bersekolah. Dan saat masa sekolah yang dimulai pada masa pra sekolah, pendidikan taman kanak-kanaklah yang berperan dalam usaha mengembangkan kreativitas dan kemampuan anak agar perkembangannya dapat terjadi seoptimal mungkin.
Pengembangan kreativitas tersebut harus diusahakan sejak usia dini karena daya pikir anak pada usia-usia dini belum terkontaminasi dengan banyak hal/persoalan sehingga perlu adanya penanganan dan pendidikan yang tepat untuk menanamkan kreativitas dan cara berfikirnya agar pada usia-usia selanjutnya anak dapat tetap berfikir secara positif dan kreatif. Penanaman cara berfikir dan kreativitas seseorang pada usia dini akan menjadi dasar pada usia-usia selanjunya dan sangat berpengaruh terhadap daya pikir dan kreativitasnya setelah ia dewasa.

Minggu, 26 Juni 2011

ENDAH_INDAH: TEKNIK MENGAJAR UNTUK MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR DALAM BELAJAR MANDIRI

ENDAH_INDAH: TEKNIK MENGAJAR UNTUK MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR DALAM BELAJAR MANDIRI (SELF LEARNING)

TEKNIK MENGAJAR UNTUK MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR DALAM BELAJAR MANDIRI

TEKNIK MENGAJAR UNTUK MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR DALAM BELAJAR MANDIRI
A. Pendahuluan
Mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu (Arifin :1978). Sebagai seorang guru tentu tidak bisa terlepas dari kegiatan mengajar. Untuk dapat menyampaikan suatu meteri kepada siswa-siswanya seorang guru harus memiliki teknik-teknik mengajar yang tepat sehingga apa yang disampaikan dapat diterima oleh siswa-siswanya.
Mengajar merupakan suatu hal yang kompleks karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal yang dibutuhkan dua hal utama yaitu: (1) Pengetahuan dan keahlian profesional; (2) komitmen dan motivasi.
Mengajar tak sekedar menyampaikan ilmu, namun bagaimana memotivasi para peserta agar bisa menyerap ilmu dan menerapkannya dilapangan. Jika seorang guru dapat memotivasi siswa-siswanya, maka secara mandiri siswa-siswanya akan melakukan kegiatan belajar. Oleh sebab itu seorang guru harus memiliki teknik-teknik mengajar yang tepat untuk dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa-siswanya dapat mengarah pada kegiatan belajar mandiri.

B. Mengajar, Motivasi Belajar, dan Belajar Mandiri
1. Pengertian Mengajar
Mengajar didefinisikan oleh Sudjana (2000) dalam http://www.kompasiana.com/channel/humaniora sebagai alat yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin. Pasaribu (1983) juga mengungkapkan definisi mengajar sebagai suatu kegiatan mengorganisir (mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Arifin (1978) mendefinisikan mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan membimbing dan mengorganisasikan lingkungan sekitar anak didik, agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang meliputi menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran secara optimal.

2. Pengertian motivasi Belajar
Menurut Mc. Donald dalam http://belajarpsikologi.com/pengertian-motivasi-belajar/, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.
Thomas L. Good dan Jere B. Braphy (1986) dalam http://belajarpsikologi.com/pengertian-motivasi-belajar/ juga mendefinisikan motivasi sebagai suatu energi penggerak dan pengarah yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
Pengertian belajar menurut Morgan dalam http://belajarpsikologi.com/pengertian-belajar-menurut-ahli/ , mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Sedangkan menurut Moh. Surya (1981), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dari uraian yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

3. Pengertian Belajar Mandiri
Belajar Mandiri memandang siswa sebagai para manajer dan pemilik tanggung jawab dari proses pelajaran mereka sendiri. Belajar Mandiri mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, menentukan setting, sumber daya, dan tindakan) dengan self-monitoring (siswa memonitor, mengevaluasi dan mengatur strategi belajarnya (http://www.gapiak.co.cc/2010/11/belajar-mandiri.html).
Hargis dan Kerlin dalam http://www.gapiak.co.cc/2010/11/belajar-mandiri.html, mendefisikan kemandirian belajar sebagai upaya memperdalam dan memanipulasi jaringan asosiatif dalam suatu bidang tertentu, dan memantau serta meningkatkan proses pendalaman yang bersangkutan. Definisi tersebut menunjukkan bahwa kemandirian belajar merupakan proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap proses kognitif dan afektif dalam menyelesaikan suatu tugas akademik.
Menurut Martinis Yamin (2008 : 115) belajar mandiri yaitu cara belajar aktif dan partisipatif untuk mengembangkan diri masing-masing individu yang tidak terikat dengan kehadiran guru, dosen, pertemuan tatap muka di kelas, kehadiran teman di sekolah, belajar mandiri merupakanbelajar dalam mengembangkan diri, keterampilan dengan cara tersendiri, peran guru sebagai fasilitator dan konsultan.
Sedangkan menurut Haris Mudjiman (2009:7) belajar mandiri merupakan kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dan beberapa pertimbangan di atas, maka belajar mandiri dapat diartikan sebagai usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi dan atau kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata.
Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri. Hal yang terpenting dalam proses belajar mandiri ialah peningkatan kemauan dan keterampilan siswa/peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain, sehingga pada akhirnya siswa/peserta didik tidak tergantung pada guru/instruktur, pembimbing, teman, atau orang lain dalam belajar.

C. Teknik Mengajar untuk Menumbuhkan Motivasi Belajar
Setelah kita mengetahui tentang mengajar, motivasi belajar, dan belajar mendiri kita dapat melihat bahwa dalam mengajar, seorang guru tidak hanya sekedar dapat menyampaikan materi kepada peserta didiknya melainkan seorang guru harus mampu memotivasi peserta didik untuk dapat melakukan kegiatan belajar secara mandiri. Tentu saja untuk dapat memotivasi peserta didik guru harus mempunyai teknik mengajar tertentu dalam upaya pengembangan motivasi belajar mandiri. Dalam Haris Mudjiman (2009:79) beberapa hal yang terkait dengan teknik mengajar, yaitu:
1. Kognisi – Motivasi Belajar – Kegiatan Belajar.
Dalam mengajar, guru perlu memahami dengan baik hubungan antara kognisi (daya pikir), motivasi belajar, dan intensitas kegiatan belajar pada diri siswanya. Dengan pemahaman ini guru dapat memilih strategi yang tepat untuk meningkatkan motivasi belajar siswanya. Perubahan yang terjadi pada kemampuan daya pikir akan berakibat pada perubahan dalam motivasi belajar. Perubahan motivasi belajar akan mengakibatkan perubahan dalam intensitas kegiatan belajar. Perubahan-perubahan itu terjadi sebagai akibat dari perubahan lingkungan dan kedewasaan. Perubahan lingkungan adalah perubahan dari lingkungan keluarga ke lingkungan tempat tinggal, dan dari lingkungan tempat tinggal ke lingkungan sekolah. Perubahan kedewasaan adalah perubahan daya pikir, motivasi belajar dan kegiatan belajar sejalan dengan bertambahnya usia. Selain itu faktor emosi juga berperan dalam peningkatan motivasi belajar siswa. Perubahan kemampuan kognisi dan emosi terjadi sejalan dengan perkembangan kedewasaan.
Perubahan-perubahan kematangan kognisi dan emosi menyebabkan siswa melihat umpan balik hasil belajar -- diidentikkan dengan nilai – secara lebih obyektif. . Mereka mulai melihat bahwa umpan balik hasil belajar bukan lagi merupakan evaluasi-sosial, tetapi benar-benar evaluasi objektif. Hal ini menyebabkan mereka sangat peduli terhadap penilaian pihak-pihak luar dan mereka menjadi sangat menghargai nilai. Apabila hal ini terus berkelanjutan selama mereka belajar di sekolah tentu akan menyebabkan kebosanan dan menganggap sekolah merupakan tempat yang tidak menyenangkan. Empat jenis umpan balik hasil belajar yaitu :
a. Evaluasi sosial bertujuan memberikan umpan balik yang bersifat membesarkan hati, atau menyenangkan hati anak yang dinilai. Bila umpan balik jenis ini diterima anak dengan kognisinya yang belum matang, seringkali menyesatkan.
b. Evaluasi simbolik memberikan umpan balik berupa simbol-simbol. Misalnya anak mendapatkan bintang-kertas-mengkilap apabila dapat menyelesaikan pekerjaan matematiknya tanpa kesalahan.
c. Evaluasi ‘Objective Past performance’ merupakan evaluasi yang dapat memberikan umpan balik dengan kriteria yang lebih jelas. Anak mendapatkan gambaran yang lebih obyektif tentang kemampuannya. Meskipun sementara pihak menganggap evaluasi jenis ini hanya menilai kemampuan kognitif, tidak mengukur kemampuan-kemampuan yang lain.
d. ‘Normative feedback’ memberikan gambaran kemampuan seseorang anak dalam bandingannya dengan anak lain di kelompok/kelasnya.
Pemberian umpan balik hendaknya diberikan oleh guru secara bijaksana, selektif, wajar, dan sesegera mungkin, sehingga umpan balik yang diberikan dapat memotivasi siswa dalam belajarnya bukan sebagai hal yang tidak menyenangkan. Guru harus mengupayakan agar hasil belajar anak memuaskan sehingga anak dapat terus termotivasi untuk belajar.

2. Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar.
Keadaan motivasi belajar terkait erat pula dengan stuktur pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Menurut Ames dalam Haris Mudjiman (2009:84) struktur pembelajaran yang dikenal yaitu :
a. Struktur Kompetitif : struktur pembelajaran yang lazim digunakan dalam pendidikan formal-tradisional adalah struktur kompetitif. Sistem penilaian yang digunakan dalam struktur ini mendorong siswa untuk berkompetisi dengan kawan-kawannya. Kemampuan mereka diukur dengan nilai dan rank. Orientasi siswa adalah ‘menang atau kalah’.
b. Struktur Individual: Pembelajaran dengan struktur individual banyak dijalankan dalam sistem pendidikan nonformal atau dalam pendidikan formal-tradisional tetapi ada penugasan-penugasan individual sesuai minat masing-masing. Dalam struktur pembelajaran individual, siswa berorientasi kepada pencapaian kompetensi. Bila masih terjadi kompetisi, yang terjadi adalah kompetisi dengan diri sendiri, bukan dengan kawan-kawannya.
c. Struktur Kooperatif: Struktur pembelajaran ini dapat dijalankan di kelas-kelas tradisional dalam bentuk kerja kelompok, atau di kelas-kelas pendidikan non-formal. Sikap kompetitif masih ada pada setiap kelompok, tetapi orientasi belajar utamanya adalah ke pencapaian sesuatu kompetensi atau pemecahan masalah. Dalam struktur kooperatif nilai etik dapat ditumbuhkan. Di antaranya adalah timbulnya rasa malu kalau tidak berpartisipasi dalam kerja bersama; tumbuhnya etika kerja kelompok; dan timbulnya solidaritas kelompok. Struktur pembelajaran kooperatif dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri siswa-siswa yang merasa diri berkemampuan kurang.
Dalam menerapkan struktur pembelajaran dalam pendidikan formal-tradisional, guru harus pandai memilih segi positif dari masing-masing struktur pembalajaran dan menggunakannya secara bijaksana, sehingga benar-benar dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa ke arah peningkatan motivasi.

3. Penumbuhan Motivasi Belajar
Selain dengan memilih struktur pembelajaran yang tepat, dalam pendidikan formal tradisional ada beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Dalam http://ibnufajar75.wordpress.com/2011/02/10/metode-mengajar-guru/, disebutkan bahwa beberapa cara menumbuhkan motivasi siswa yaitu :
a. Gunakan metode dan kegiatan yang beragam
Melakukan hal yang sama secara terus menerus bisa menimbulkan kebosanan dan menurunkan semangat belajar. Siswa yang bosan cenderung akan mengganggu proses belajar. Variasi akan membuat siswa tetap konsentrasi dan termotivasi. Sesekali mencoba sesuatu yang berbeda dengan menggunakan metode belajar yang bervariasi di dalam kelas. Cobalah untuk membuat pembagian peran, debat, transfer pengetahuan secara singkat, diskusi, simulasi, studi kasus, presentasi dengan audio-visual dan kerja kelompok kecil.
b. Jadikan siswa peserta aktif
Jangan jadikan siswa peserta pasif di kelas karena dapat menurunkan minat dan mengurangi rasa keingintahuannya. Gunakanlah metode belajar yang aktif dengan memberikan siswa tugas berupa simulasi penyelesaian suatu masalah untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar. Jangan berikan jawaban apabila tugas tersebut dirasa sanggup dilakukan oleh siswa.
c. Buatlah tugas yang menantang namun realistis dan sesuai
Buatlah proses belajar yang cocok dengan siswa dan sesuai minat mereka sehingga menarik karena mereka dapat melihat tujuan dari belajar. Buatlah tugas yang menantang namun realistis. Realistis dalam pengertian bahwa standar tugas cukup berbobot untuk memotivasi siswa dalam menyelesaikan tugas sebaik mungkin, namun tidak terlalu sulit agar jangan banyak siswa yang gagal dan berakibat turunnya semangat untuk belajar.
d. Ciptakan suasana kelas yang kondusif
Kelas yang aman, tidak mendikte dan cenderung mendukung siswa untuk berusaha dan belajar sesuai minatnya akan menumbuhkan motivasi untuk belajar. Apabila siswa belajar di suatu kelas yang menghargai dan menghormati mereka dan tidak hanya memandang kemampuan akademis mereka maka mereka cenderung terdorong untuk terus mengikuti proses belajar.
e. Berikan tugas secara proporsional
Jangan hanya berorientasi pada nilai. Segala tugas di kelas dan pekerjaan rumah tidak selalu bisa disetarakan dengan nilai. Hal tersebut dapat menurunkan semangat siswa yang kurang mampu memenuhi standar dan berakibat siswa yang bersangkutan merasa dirinya gagal. Gunakan mekanisme nilai seperlunya, dan cobalah untuk memberikan komentar atas hasil kerja siswa mulai dari kelebihan mereka dan kekurangan mereka serta apa yang bisa mereka tingkatkan. Berikan komentar Anda secara jelas. Berikan kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki tugas mereka apabila mereka merasa belum cukup.
f. Libatkan diri Anda untuk membantu siswa mencapai hasil
Arahkan siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam proses belajar mengajar, jangan hanya terpaku pada hasil ujian atau tugas. Bantulah siswa dalam mencapai tujuan pribadinya dan terus pantau perkembangan mereka.
g. Berikan petunjuk pada para siswa agar sukses dalam belajar
Jangan biarkan siswa berjuang sendiri dalam belajar. Sampaikan pada mereka apa yang perlu dilakukan. Buatlah mereka yakin bahwa mereka bisa sukses dan bagaimana cara mencapainya.
h. Hindari kompetisi antarpribadi
Kompetisi bisa menimbulkan kekhawatiran, yang bisa berdampak buruk bagi proses belajar dan sebagian siswa akan cenderung bertindak curang. Kurangi peluang dan kecendrungan untuk membanding-bandingkan antara siswa satu dengan yang lain dan membuat perpecahan diantara para siswa. Ciptakanlah metode mengajar dimana para siswa bisa saling bekerja sama.
i. Berikan Masukan
Berikan masukan para siswa dalam mengerjakan tugas mereka. Gunakan kata-kata yang positif dalam memberikan komentar. Para siswa akan lebih termotivasi terhadap kata-kata positif dibanding ungkapan negatif. Komentar positif akan membangun kepercayaan diri. Ciptakan situasi dimana Anda percaya bahwa seorang siswa bisa maju dan sukses di masa datang.
j. Hargai kesuksesan dan keteladanan
Hindari komentar negatif terhadap kelakuan buruk dan performa rendah yang ditunjukan siswa, akan lebih baik bila memberikan apresiasi bagi siswayang menunjukan kelakuan dan kinerja yang baik. Ungkapan positif dan dorongan sukses bagi siswa merupakan penggerak yang sangat berpengaruh dan memberikan aspirasi bagi siswa yang lain untuk berprestasi.
k. Antusias dalam mengajar
Antusiasme seorang guru dalam mengajar merupakan faktor yang penting untuk menumbuhkan motivasi dalam diri siswa. Bila Anda terlihat bosan dan kurang antusias maka para siswa akan menunjukkan hal serupa. Upayakan untuk selalu tampil baik, percaya diri dan antusias di depan kelas.
l. Tentukan standar yang tinggi (namun realisitis) bagi seluruh siswa
Standar yang diharapkan oleh para guru terhadap siswanya memiliki dampak yang signifikan terhadap performa dan kepercayaan diri mereka. Bila guru mengharapkan seluruh siswa untuk termotivasi, giat belajar dan memiliki minat yang tinggi, mereka cenderung akan bertindak mengikuti kehendak guru.
m. Pemberian penghargaan untuk memotivasi
Pemberian penghargaan seperti nilai, hadiah dsb, mungkin efektif bagi sebagian siswa (biasanya bagi anak kecil) namun metode ini harus digunakan secara hati-hati karena berpotensi menciptakan kompetisi. Namun demikian, penggunaan metode ini dapat melahirkan motivasi internal.
n. Ciptakan aktifitas yang melibatkan seluruh siswa dalam kelas
Buatlah aktifitas yang melibatkan siswa dengan kawan-kawan mereka dalam satu kelas. Hal ini akan membagi pengetahuan, gagasan dan penyelesaian tugas-tugas individu siswa dengan seluruh siswa di kelas tersebut.
o. Hindari penggunaan ancaman
Jangan mengancam siswa dengan kekerasan, hukuman ataupun nilai rendah. Bagi sebagian siswa ancaman untuk memberi nilai rendah mungkin efektif, namun hal tersebut bisa memicu mereka mengambil jalan pintas (mencontek).
p. Hindarilah komentar buruk
Gunakanlah komentar yang positif dan perilaku yang baik. Banyak siswa yang percaya diri akan performa dan kemampuan mereka. Jangan membuat pernyataan yang negatif kepada para siswa di kelas berkaitan dengan perilaku dan kemampuan mereka.
q. Kenali minat siswa-siswa
Siswa dalam satu kelas memiliki minat dan kepribadian yang berbeda-beda. Pahamilah tanggapan mereka terhadap materi dan apa minat, cita-cita, harapan dan kekhawatiran mereka. Pergunakanlah berbagai contoh dalam pembelajaran yang ada kaitannya dengan minat mereka untuk membuat mereka tetap termotivasi dalam belajar.
r. Peduli dengan siswa-siswa
Para siswa akan menunjukkan minat dan motivasi pada para guru yang memiliki perhatian. Cobalah membangun hubungan yang positif dengan para siswa dan coba kenali mereka sebagaimana guru memperkrnalkan diri pada mereka. Misalnya, guru dapat menceritakan kisahnya ketika masih menjadi siswa.
Selain beberapa cara diatas, ada pula teknik motivasi yang lain -- disajikan dalam bentuk basic principles of motivation (Haris Mudjiman, 2009:88), yaitu:
a. Penggunaan alat peraga -- untuk menarik perhatian dan memperjelas;
b. Pemberian incentives, yang berupa pujian dari guru, atau timbulnya kepuasan dari dalam diri, karena pekerjaannya berhasil;
c. Penumbuhan motivasi internal, karena jenis motivasi ini memungkinkan kegiatan berlangsung lama dan intensif -- tetapi menurut sumber ini, motivasi internal harus terus menerus dijaga dengan pemberian reinforcement;
d. Penumbuhan keinginan untuk belajar, karena pembelajaran akan efektif kalau pebelajar memang sudah siap -- dan kesiapan ini didorong oleh keinginan mengetahui sesuatu;
e. Pengorganisasian bahan ajar yang baik -- selalu dikaitkan dengan bahan sebelumnya;
f. Penciptaan suasana yang tidak menekan/stressful;
g. Pemberian bantuan agar siswa memiliki tujuan belajar yang jelas, dan pemberian umpan balik agar siswa mengetahui sejauh mana tujuan telah dicapai;
h. Pemberian dukungan oleh kawan-kawan terhadap apa yang ia kerjakan.

4. Teknik Mengajar untuk Membangkitkan Motivasi Belajar.
Agar seorang guru dapat mengarahkan siswa-siswanya pada belajar mandiri, hendaknya seorang guru memiliki teknik atau cara mengajar misalnya dengan membangkitkan motivasi belajar siswa. Dalam http://tlp.excellencegateway.org.uk/tlp/xcurricula/el/assets/documents/independent_O.pdf dikemukakan tentang beberapa cara untuk menciptakan belajar mandiri yaitu :
a. Reflection Encourage your learners to think about what learning strategies work for them and what progress they are making. Provide pro formas for learners to record this.
b. Sharing ideas: Create opportunities for group and paired work, and for mutual support. Encourage learners to share stories and strategies, and seek ideas from other people in the group so that the teacher is not the only source of support.
c. Questions: Develop a learning atmosphere and exercises that encourage learners to ask questions. Use problem solving techniques rather than finding right and wrong answers to closed questions.
d. Learner voice : Learners tend to become more confident when they know that their views will be taken seriously, so provide opportunities for learners to express their needs and concerns. Help them to feel secure by establishing a clear code of conduct from the start of their learning.
e. Catch confidence : Provide a framework for recognising and recording progress and achievement. Include constructive comments from peers as well as teacher and learner feedback. Tackle the self-doubt expressed as “I’m no good at that”.
f. Create opportunities for independent learning : Do not be afraid to leave your students to tackle questions on their own or as part of a group exercise. Leave the room for a defined amount of time if that would help. Create plenty of opportunities for learners to practise their skills outside the classroom.
g. Learners centre stage : Encourage learners to demonstrate what they have learned; this helps to reinforce their learning. Ask them to explain points to others in their group. Help learners to feel safe with this level of exposure by explaining its purpose. If learners find it difficult, invite the more confident ones to share their coping strategies.
h. Support learners to develop their study skills: Build study support into your courses. Identify which literacy, language or numeracy skills learners need in order to cope with learning their subjects.
i. Progression : Encourage students to identify their goals from the start of their journey with you. Discuss with them the learning that will help them reach those goals. Find out whether they need support with developing their literacy, language, numeracy and speaking skills. Arrange Information, Advice and Guidance (IAG) support or visits to possible alternative venues for learning where appropriate.
Dari pendapat diatas, dapat diketahui bahwa untuk mendorong siswa agar mau melakukan belajar madiri yaitu melakukan refleksi dengan mendorong mereka untuk berpikir, berbagi ide dengan saling bertukar pikiran dan bekerja secara kelompok, mengembangkan pertanyaan dan mendorong siswa untuk selalu bertanya, menghargai pendapat siswa sehingga siswa merasa bahwa pendapat/suara mereka berguna, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, menciptakan peluang untuk belajar mandiri, memusatkan pembelajaran pada siswa jadi siswalah yang harus aktif dalam pembelajaran misalnya mendorong siswa untuk mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari, beri dukukungan siswa untuk mengembangkan kemampuan belajar mereka, mendorong Kemajuan siswa untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan mereka dari awal perjalanan.
Menurut Haris Mudjiman (2009 : 89) teknik mengajar untuk membengkitkan motivasi belajar siswa yaitu :
a. Menumbuhkan Rasa Tahu Kegunaan Belajar (T).
Tujuan kegiatan ini adalah melatih kemampuan siswa untuk melakukan analisis cost benefit terhadap kegiatan belajar suatu mata pelajaran yaitu siswa memahami untung-rugi kalau melakukan atau tidak melakukan kegiatan belajar yang terkait dengan mata pelajaran:
1) Selalu menjelaskan dan menunjukkan relevansi mata pelajaran dengan dunia praktik dan pengembangan ilmu untuk dapat menumbuhkan minat siswa.
2) Selalu menjelaskan tujuan mata pelajaran dan pokok-pokok isinya pada saat akan mulai mengajar.
3) Minat siswa juga akan tumbuh bila guru selalu ingat, bahwa siswa akan selalu bertanya kepada diri sendiri: ‘What’s in it for me?’ (apa manfaatnya untukku?) dalam menerima setiap pelajaran.
4) Menyadarkan kerugian bila tidak memiliki kompetensi yang ‘dijanjikan’ oleh mata pelajaran.
5) Menjelaskan kemungkinan-kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam mempelajari mata pelajaran, dan cara mengatasinya.
6) Menjelaskan cara-cara untuk dapat lulus dalam mata pelajaran.
7) Selalu melatih berpikir dan bertanggung jawab atas pikirannya, dengan cara antara lain: menilai pekerjaan sendiri atau kawan sekelas sebelum memasukkannya kepada guru, untuk kemudian diberi nilai yang sah oleh guru.
8) Sekali-sekali memerintahkan siswa yang pintar dari kelas di atasnya untuk menjelaskan sesuatu yang terkait dengan mata pelajaran; ini dimaksudkan agar siswa mengetahui ‘seperti apa’ siswa yang berhasil dengan mata pelajarannya, dan menjadikannya sebuah ‘image’ untuk ditiru.

b. Menumbuhkan Rasa Butuh Belajar (B).
Tujuan kegiatan adalah menumbuhkan kesadaran bahwa ‘benefit’/keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan kegiatan belajar akan dapat memenuhi kebutuhannya. Cara-cara yang dapat dilakukan yaitu:
1) Menugasi kelompok-kelompok siswa untuk mengumpulkan data yang menunjukkan bahwa pengetahuan yang diberikan di sekolah terkait dengan kegunaan praktik di masyarakat, misalnya data demografi di kantor-kantor kelurahan dalam mata pelajaran Geografi Penduduk,
2) Menyisipkan dalam mata pelajaran, cuplikan-cuplikan biografi orang-orang yang berhasil, baik ilmuwan, pengusaha, maupun tokoh-tokoh yang dikenal luas oleh masyarakat.
3) Menyisipkan dalam mata pelajaran, kisah alumni-alumni dari sekolah itu yang berhasil hidupnya di masyarakat.
4) Menekankan pentingnya perencanaan hidup masa depan -- misalnya profesi apa yang ingin digeluti di masa depan – untuk menumbuhkan kebutuhan belajar.
5) Mendorong siswa untuk menemukan bakat atau potensi yang dimilikinya.

c. Menumbuhkan Rasa Mampu Belajar (M).
Tujuan kegiatan adalah menumbuhkan keyakinan kepada siswa bahwa ia memiliki kemampuan untuk belajar. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan guru misalnya:
1) Membiasakan siswa berpikir, bahwa to err is human -- bahwa membuat kesalahan itu manusiawi. Membuat kesalahan bukan sesuatu yang menakutkan. Kalau belum terjadi harus dicegah, tetapi kalau sudah terjadi harus diatasi.
2) Membiasakan kerja kelompok, juga dapat menumbuhkan rasa mampu, karena dapat saling menolong.
3) Menyarankan kelas membuat semboyan untuk menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri. Misalnya: ‘Aku Pasti Bisa’.
4) Membiasakan siswa mampu mengendalikan diri, misalnya dengan selalu menaati aturan-aturan yang dibuat bersama oleh murid dan guru.
5) Memanfaatkan studi lapangan untuk malatih kekuatan fisik, misalnya menyisipkan survival training guna menumbuhkan rasa percaya diri.
6) Membiasakan siswa mengidentifikasi ide-ide pokok dalam satu atau sebagian mata pelajaran, dan menggambarkan hubungan antar-ide-ide itu dengan garis/anak panah. Maksudnya untuk menunjukkan pemahaman dan penguasaan terhadap mata pelajaran.

d. Menumbuhkan Rasa Senang Belajar (S).
Rasa senang kepada kegiatan belajar banyak ditentukan oleh keberhasilan belajar pada waktu-waktu sebelumnya. Selain itu rasa senang juga ditentukan oleh hasil analisis cost-benefit perbuatan belajar, serta rasa butuh belajar dan keyakinan bahwa ia akan mampu mencapai tujuan belajar. Oleh karena itu kegiatan guru yang terkait dengan T, B, M dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa senang belajar (S).
Selain itu, guru dapat melakukan kegiatan-kegiatan berikut:
1) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk istirahat di tempat selama 1 - 2 menit setelah pelajaran berlangsung 20 menit, untuk memberikan kesempatan kepada mereka mencocokkan catatan pelajarannya dengan kawannya, atau sekadar untuk relaks.
2) Menggunakan metode mengajar bervariasi.
3) Bila memungkinkan, menggunakan audio-visual aids untuk menarik perhatian dan memberikan kegembiraan.


e. Menumbuhkan Kemampuan Belajar (Pb)
Tujuan kegiatan ini adalah menumbuhkan kemampuan belajar siswa. Berbagai cara dapat dilakukan guru, diantaranya:
1) Melatih siswa membuat analogi; maksudnya untuk mengetes pemahaman dan memperdalam pemahaman bahan pelajaran, dengan cara membuat analogi dengan bahan lain yang sejenis.
2) Membiasakan siswa melakukan pemikiran mendalam. Bukan hanya memahami fenomena, melainkan juga memikirkan mengapa fenomena itu terjadi.
3) Membiasakan siswa membuat pertanyaan-pertanyaan setelah membaca sesuatu teks, yang jawabannya tersurat atau tersirat dalam teks.
4) Meminta siswa menceriterakan kembali, dengan bahasanya sendiri, pokok-pokok isi pelajaran yang baru saja diterimanya dari guru.
5) Meminta siswa -- dipilih secara acak atau sukarela -- menjawab pertanyaan kawannya yang diajukan kepada guru, dan meminta siswa lain untuk memberikan pendapat tentang jawaban kawannya itu.

f. Menumbuhkan Kemampuan Menilai Hasil Belajar.
Tujuan kegiatan ini adalah menumbuhkan kemampuan menilai secara objektif hasil belajarnya sendiri, sehingga perasaan puas atau tidak puas (P) yang muncul sebagai akibat dari penilaian adalah perasaan yang tidak salah.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan guru antara lain:
1) Memberikan feedback secara spesifik -- tidak hanya bersifat umum -- mengenai pekerjaan siswa, sehingga siswa tahu persis bagian mana yang salah, dan tahu bagaimana cara memperbaikinya.
2) Memberikan feedback dengan segera, agar siswa tidak lelah berharap cemas tentang hasil belajarnya.
3) Memberikan negative feedback dengan bijak, sehingga siswa menerimanya sebagai informasi tentang hasil belajarnya yang kurang, bukan sebagai vonis tentang ketidakmampuannya.
4) Mendorong siswa untuk tidak melihat nilai sebagai satu-satunya hasil belajar, melainkan juga melihat pengetahuan-pengetahuan apa, atau kemampuan-kemampuan-praktis apa yang ia miliki setelah menerima pelajaran dari guru, atau dari usahanya sendiri mencari pengetahuan baru.
5) Bila memungkinkan, guru bukan hanya memberi nilai terhadap pekerjaan siswa, melainkan juga catatan-catatan singkat tentang kekuatan siswa, khususnya yang mendapatkan nilai kurang.

D. Penutup
Belajar mandiri merupakan usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi dan atau kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata.
Dalam upaya untuk menumbuhkan kemandirian siswa dalam belajar, seorang guru harus memiliki teknik-teknik mengajar yang tepat. Yang perlu diperhatikan yaitu bahwa tugas guru dalam mengajar tidaklah hanya untuk menyampaikan informasi tatapi bagaimana guru harus bertindak sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa-siswanya, sehingga siswa-siswanya dapat belajar secara mandiri.
Dengan mengimplementasikan secara bijaksana teknik-teknik yang telah dikemukakan, diharapkan dapat menjadikan siswa lebih termotivasi dalam belajar sehingga siswa dapat melaksanakan belajar secara mandiri karena keinginannya sendiri, karena rasa ingin tahunya, karena kebutuhannya, karena rasa senangnya pada belajar, dan karena siswa mengetahui kemampuan dirinya sendiri bahwa dia mampu untuk belajar sendiri. Dengan demikian, tujuan-tujuan dari pembelajaran dapat benar-benar dikuasai siswa dan siswa dapat mengimplementasikan pembelajaran yang mereka dapatkan dalam kehidupan mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Haris Mudjiman. 2009. Belajar Mandiri (Self Motivated Learning). Surakarta : UNS Press

Haris Mudjiman. PPT

http://belajarpsikologi.com/pengertian-belajar-menurut-ahli/ ( 2 April 2011)

Mohammad Ali Musyaffa’. Belajar Mandiri. http://www.gapiak.co.cc/2010/11/belajar-mandiri.html ( 25 Maret 2011)

Ibnu Fajar. Metode Mengajar Guru. http://ibnufajar75.wordpress.com/2011/02/10/metode-mengajar-guru/ (10 Februari 2011)

Martinis Yamin. 2008. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : Gaung Persada Press

Muhmud. Cara Menumbuhkan Motivasi Belajar. http://belajarpsikologi.com/pengertian-motivasi-belajar/ (25 Maret 2011)

Rovey Widianto. Definisi Belajar dan Mengajar. http://www.kompasiana.com/channel/humaniora


Quality Improvement Agency. Independent Learning and The Expert Learner. http://tlp.excellencegateway.org.uk/tlp/xcurricula/el/assets/documents/independent_O.pdf ( 25 Mei 2011)

💻 ICT Transforming Education: Mengajar di Tengah Revolusi Digital

    Halo, pembaca setia  Teknologi dan Hati ! 🌷 Minggu ini saya akan sedikit sharing mengenai materi mata kuliah  Pembelajaran Berbasis TIK...