Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Materi Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kuliah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2025

💻 ICT Transforming Education: Mengajar di Tengah Revolusi Digital

 

 

Halo, pembaca setia Teknologi dan Hati! 🌷

Minggu ini saya akan sedikit sharing mengenai materi mata kuliah Pembelajaran Berbasis TIK, kami mempelajari buku “ICT Transforming Education” karya Jonathan Anderson — sebuah panduan penting dari UNESCO yang membahas bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (ICT) telah mengubah wajah pendidikan di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia-Pasifik.

 🌍 ICT: Lebih dari Sekadar Komputer

Buku ini membuka pandangan bahwa ICT bukan hanya tentang komputer dan internet. ICT meliputi semua alat yang membantu manusia mengumpulkan, menyimpan, memproses, dan berbagi informasi — mulai dari smartphone, kamera digital, hingga papan tulis interaktif. Dengan kata lain, ICT bukan sekadar “alat bantu mengajar,” melainkan ekosistem yang membentuk cara baru kita belajar dan berinteraksi.

 🧩 Transformasi Peran Guru dan Siswa

Salah satu bagian yang paling saya refleksikan adalah pergeseran peran guru dan siswa.

  • Dulu, guru adalah sumber utama pengetahuan.
  • Sekarang, guru menjadi fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan dan menafsirkan informasi secara mandiri.

Sementara itu, siswa kini bukan lagi penerima pasif, tetapi pencipta pengetahuan (knowledge creator) melalui aktivitas kolaboratif dan eksplorasi digital. Saya melihat bahwa peran guru di era ini justru menjadi lebih penting — bukan karena ia menyampaikan semua jawaban, tetapi karena ia membantu siswa menemukan pertanyaan yang tepat.

 🚀 Revolusi Keempat dalam Pendidikan

Buku ini menyebut munculnya “revolusi keempat” — di mana pembelajaran tidak lagi terikat ruang dan waktu.

Konsep seperti:

  • e-learning (pembelajaran elektronik),
  • m-learning (pembelajaran melalui perangkat seluler), dan
  • u-learning (pembelajaran di mana saja dan kapan saja)

menjadi kenyataan dalam kehidupan kita saat ini.

Melalui internet, Google, YouTube, Wikipedia, hingga media sosial, pendidikan telah menjadi jaringan global yang membuka peluang belajar tanpa batas.

 ⚖️ Kesenjangan Digital di Asia-Pasifik

Namun, tidak semua negara menikmati kemajuan yang sama.

Jonathan Anderson menyoroti adanya digital divide — kesenjangan antara mereka yang memiliki akses ICT dan yang tidak.

  • Negara seperti Singapura dan Korea Selatan sudah mencapai indeks ICT di atas 95,
  • sementara Indonesia masih berada di kisaran 84,7 (kategori upper middle income).

Kesenjangan ini tidak hanya soal akses internet, tetapi juga kualitas penggunaan teknologi. Apakah teknologi digunakan hanya untuk hiburan, atau untuk membangun keterampilan berpikir kritis dan kreativitas?

 💡 Keterampilan Abad ke-21: 4C

Buku ini menekankan pentingnya keterampilan 4C bagi siswa abad ke-21:

  1. Critical Thinking – berpikir kritis dan analitis,
  2. Creativity – menghasilkan ide dan solusi baru,
  3. Collaboration – bekerja bersama dalam lingkungan digital,
  4. Communication – mengomunikasikan gagasan secara efektif.

Sebagai pendidik, saya merasa tantangan kita sekarang bukan lagi sekadar mengenalkan teknologi, tetapi mengarahkan penggunaannya agar membentuk manusia yang kreatif, adaptif, dan beretika digital.

 💬 Refleksi Pribadi

Setelah mempelajari materi ini, saya semakin yakin bahwa teknologi hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir.

Kunci transformasi pendidikan tetap berada di tangan guru — bagaimana kita menyalurkan teknologi dengan hati, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti kata Jonathan Anderson, “Education is not only about information, but transformation.”

 📂 Materi Lengkap (PDF)

Untuk teman-teman yang ingin membaca lebih detail ringkasan Bab 1–2 buku ICT Transforming Education, dapat mengunduhnya di tautan berikut:

📎 https://drive.google.com/file/d/1selkgXs8D9G3QXAEHbPs26TTrfOXMOkr/view?usp=sharing 

 

Selasa, 08 Januari 2019

EVALUASI MEDIA PEMBELAJARAN



Alasan pentingnya melakukan evaluasi terhadap media pembelajaran yaitu:

1.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi siswa
Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua kemungkinan:
a.       Hasil bagi siswa yang memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, tentunya kepuasan ini ingin diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya hasilnya menurun.
b.      Hasil bagi siswa yang tidak memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan giat belajar. Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan menjadi putus asa.
2.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi orang tua
a.    Mengetahui kemajuan belajar peserta didik.
b.    Membimbing kegiatan belajar peserta didik di rumah.
c.    Menentukan tindak lanjut pendidikan yang sesuai dengan kemampuan anaknya.
d.   Memperkirakan kemungkinan berhasil tidaknya anak tersebut dalam bidang pekerjaannya.
3.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi guru
a.    Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan.
b.    Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum.
c.    Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut.
d.   Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.
4.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi satuan pendidikan
a.       Bagi administrator sekolah, hasil evaluasi dapat dimanfaatkan untuk:
1)   Menentukan penempatan peserta didik.
2)   Menentukan kenaikan kelas.
3)   Pengelompokan peserta didik di sekolah mengingat terbatasnya fasilitas pendidikan yang tersedia serta indikasi kemajuan peserta didik pada waktu mendatang.
b.      Bagi kepala sekolah, hasil evaluasi dapat dimanfaatkan untuk:
1)   Untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa.
2)   Untuk memikirkan upaya – upaya pembinaan para guru dan siswa berdasarkan pendapat, gagasan, saran, aspirasi, dari berbagai pihak (guru, siswa, orang tua) yaitu melengkapi sarana belajar.
3)   Meningkatksn profesionalitas tenaga guru, pelayan sekolah, perpustakaan sekolah, tata tertib sekolah, disiplin kerja, pengawasan dll.
c.    Bagi penelitian pendidikan, hasil evaluasi dapat dimanfaatkan sebagai data yang sangat diperlukan oleh para peneliti pendidikan.
5.    Pentingnya evaluasi pembelajaran bagi pemerintah

    Memberikan informasi yang valid tentang kinerja kebijakan, program & kegiatan yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai & kesempatan telah dapat dicapai
    Memberikan sumbangan pada klarifikasi & kritik terhadap nilai-nilai yg mendasari pemilihan tujuan & target
    Melihat peluang adanya alternatif kebijakan, program, kegiatan yang lebih tepat, layak, efektif, efisien
    Memberikan umpan balik terhadap kebijakan, program dan proyek
    Menjadikan kebijakan, program dan proyek mampu mempertanggungjawabkan penggunaan dana publik
    Mambantu pemangku kepentingan belajar lebih banyak mengenai kebijakan, program dan proyek
    Dilaksanakan berdasarkan kebutuhan pengguna utama yang dituju oleh evaluasi
    Negosiasi antara evaluator dan pengguna utama yang dituju oleh evaluasi


Prosedur / tahapan evaluasi media pembelajaran


   1. Evaluasi satu lawan satu

Evaluasi media tahap satu lawan satu atau yang disebut dengan istilah one to one evaluation, dilaksanakan dengan cara cara memilih satu atau lebih siswa yang dapat mewakili populasi target dari media yang anda buat. Sajikan media tersebut kepada mereka secara individual. Kedua orang tersebut hendaknya satu dari populasi taret yang kemampuan umumnya sedikit dibawah rata-rata dan satu orang lagi diatas rata-rata.
Prosedur evaluasi media tahap satu lawan satu ini adalah sebagai berikut:

a. Jelaskan kepada siswa bahwa anda sedang merancang suatu media baru dan anda ingin mengetahui bagaimana reaksi mereka terhadap media yang dibuat tersebut.
b. Sampaikan bahwa apabila mereka berbuat salah bukan karena kekurangan mereka tetapi karena kekurangsempurnaan media tersebut yang perlu diperbaiki.
 c. Usahakan agar mereka bersikap relaks dan bebas mengemukakan pendapatnya tentang media tersebut.
 d. Selanjutnya, berikan tes awal untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pengalaman siswa terhadap topik yang dimendiakan.
 e. Sajikan media dan catat berapa lama waktu yang anda butuhkan atau dibutuhkan siswa untuk menyajikan / mempelajari media tersebut. Catat pula reaksi siswa dan bagian yang sulit untuk dipahami.
 f. Berikan tes yang mengkur keberhasilan media tersebut (post test)
g.  Analisis informai yang terkumpul

2. Evaluasi kelompok kecil
Pada tahap ini, media perlu dicobakan pada 10-20 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa yang dipilih hendaknya mencerminkan karakteristik populasi. Usahakan sampel tersebut terdiri dari siswa yang kuran pandai, sedang, dan pandai, laki-laki dan perempuan, berbagai usia dan latarbelakang.
Prosedur yang perlu ditempuh, adalah:

    Jelaskan bahwa media tersebut berada pada tahap formatif dan memerlukan umpan balik untuk menyempurnakannya
    Berikan tes awal (pra test) untk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa tentang topik yang dimediakan
    Sajikan media atau minta kepada siswa untuk mempelajari media tersebut
    Catat waktu yang diperlukan untuk semua bentuk umpan balik (langsung ataupun tidak langsung) selama penyajian media
    Berikan tes untuk mengetahui sejauh mana tujuan bisa tercapai (post test)
    Berikan kuisioner dan minta siswa untuk mengisinya, apabila mungkin adakan diskusi yang mendalam dengan beberapa siswa.
    Analisis data-data yang terkumpul. Atas dasar umpan balik semua ini media disempurnakan.

3. Evaluasi lapangan (field evaluation)
Adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan, usahakan memperoleh situasi yang semirip mungkin dengan situasi yang sebenrnya. Setelah melalui dua tahap evaluasi tentulah media yang kita buat sudah mendekati kesempurnaannya, namun dengan itu masih harus dibuktikan. Melalui evaluasi lapangan itulah kebolehan media yang kita buat itu diuji.
Pilihlah sekitar 30 siswa dengan berbagai karekteristik (tingkat kepandaian, kelas, latarbelakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar, dsb) sesuai dengan karekteristik populasi sasaran.
Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

    Mula-mula, pilih siswa yang benar-benar mewakili populasi target
    Jelaskan maksud uji lapangan kepada siswa dan hal yang diharapkan di akhir kegiatan
    Berikan tes awal untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan siswa terhadap topik yang dimedikan
    Sajikan media tersebut kepada mereka, bentuk penyajian tetu sesuai dengan rencana pembuatannya. Untuk prestasi kelompok besar, untuk kelompok kecil atau belajar mandiri
    Catat semua respon yang muncul dari siswa selama sajian. Begitu pula waktu yang diperlukan
    Berikan tes untuk mengukur seberapa jauh pencapaian hasil belajar siswa setelah sajian media tersebut. Hasil tes ini dibandingkan dengan hasil tes awal akan menunjukkan seberapa efektif dan efisisen media yang anda buat tersebut
    Berkan kuisioner untuk mengetahui pendapat atau sika mereka terhadap media tersebut dan sajuian ang diterimanya
    Ringkas dan analissi data yang anda peroleh dengan kegiatan tadi, kemampun aal, skor tes awal dan tes akhir, waktu yang diperlukan, perbikan bagian-bagian yang sulit, dan pengayaan yang diperluka, kecepatan sajian dsb
    Atas dasar itu media diperbaiki dan semaikin disempurnakan.

Selasa, 19 Maret 2013

ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction)


MENGANALISIS BAHAN AJAR BERDASARKAN ARCS

Dalam penyususnan bahan ajar harus terdapat beberapa aspek yaitu ARCS. Berikut adalah analisis bahan ajar yang memuat ARCS. Model pembelajaran ARCS terdiri dari empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran ARCS tersebut yaitu sebagai berikut:
A.      Attention (perhatian)
Perhatian adalah bentuk pengarahan untuk dapat berkonsultasi/ pemusatan pikiran  dalam menghadapi siswa dalam peristiwa proses belajar mengajar di kelas. Perhatian dapat berarti sama dengan konsentrasi, dapat pula menunjuk pada minat ”momentain” yaitu perasaan tertarik pada suatu masalah yang sedang dipelajari.
Konsentrasi/perasaan siswa dan minat dalam belajar bisa dilihat dari siswa yang perasaannya senang akan membantu dalam konsentrasi belajarnya dan sebaliknya siswa dalam kondisi tidak senang maka akan kurang berminat dalam belajarnya dan mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.
Dalam bahan ajar  aspek attention yang dapat dihadirkan misalnya:
11.    Dengan adanya berbagai gambar berwarna yang menarik serta penggunaan kalimat yang sangat menyatu dengan pembaca. Pemberian gambar merupakan aspek rangsangan visual yang dapat menarik perhatian pembaca. Sedangkan kalimat-kalimat yang digunakan merupakan bentuk kalimat semi formal yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa yang membaca akan terbawa dalam suasana belajar yang menyenangkan.
22.      Selain itu kalimat-kalimat yang dramatic dalam mengawali suatu materi juga sangat diperlukan agar siswa lebih tertarik untuk membaca dan bertahan lama untuk mau menyelesaikan kegiatan membaca tanpa alasan bosan. Pembrian pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman siswa pun akan sangat membantu siswa untuk semakin tertarik dan semakin mengarahkan siswa pada materi yang  harus dikuasainya, sebab pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat menekankan pada keterlibatan siswa. Penyajian materinya pun bervariasi dengan tampilan yang berwarna dan penyajian materi yang sangat mudah untuk dimengerti oleh siswa.
33.      Dalam bahan ajar penulis perlu berusaha untuk selalu mengaktifkan siswa dengan memberikan berbagai kegiatan sederhana yang menyenangkan tetapi tak lepas dari tujuan pembelajaran. Dengan adanya banyak kegiatan merangsang siswa untuk aktif mencoba hal-hal baru dan menemukan jawaban dari tujuan pembelajaran setelah melakukan kegiatan-kegiatan yang di sarankan. Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan secara langsung oleh siswa, tentu siswa akan lebih lama dalam mengingat materi yang dipelajarinya. Dengan kegiatan ini juga bertujuan untuk lebih mengaktifkan siswa dalam belajar dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
44.      Dengan penyajian yang bervariasi seperti penyajian dengan menggunakan frame, chunking juga akan sangat membantu siswa dalam pemahaman serta mengingat materi-materi yang ia pelajari. 
55.      Pemberian contoh dalam  materi ini pun dipilih contoh-contoh yang sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Contoh-contoh diambil dari lingkungan siswa sehingga diharapkan siswa akan lebih cepat memahami materi dan lebih lama dalam mengingat materi yang dipelajari. Hal ini dikarenakan contoh dari pengalaman siswa akan lebih mudah untuk dimengerti dan diingat siswa. 

B.     Relevance (relevan)
Relevance yang dimaksud di sini dapat diartikan sebagai keterkaitan atau kesesuaian antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa. Dari keterkaitan atau kesesuaian ini otomatis dapat menumbuhkan motivasi belajar di dalam diri siswa karena siswa merasa bahwa materi pelajaran yang disajikan mempunyaai manfaat langsung secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari siswa. Motivasi siswa akan bangkit dan berkembang apabila mereka merasakan bahwa apa yang dipelajari itu memenuhi kebutuhan pribadi, bermanfaat serta sesuai dengan nilai yang diyakini atau dipegangnya. Strategi untuk menunjukan relevensi dalam bahan ajar ini adalah sebagai berikut:
11.      Menyampaikan kepada siswa apa yang dapat mereka peroleh dan lakukan setelah mempelajari materi pembelajaran ini dengan menjelaskan tujuan pembelajaran. Dalam bahan ajar yang penulis susun pun dijelaskan terlebih dahulu tujuan dari materi yang akan dipelajari siswa sehingga siswa dapat benar-benar memiliki gambaran tentang apa yang akan dipelajarinya serta manfaat materi tersebut utuk dipelajari. 
Selain tujuan yang ada di setiap awal bab, penulis juga perlu memberikan tujuan yang jelas di setiap awal kegiatan. Tujuan-tujuan yang diberikan pada awal materi maupun awal kegiatan harus memiliki relevansi dengan kegiatan yang dilakukan misalnya kegiatan tentang “membuktikan bahwa semua makhluk hidup bernapas” disana disebutkan bahwa tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk membuktikan bahwa semua makhluk hidup bernapas. Relevasi dari kegiatan ini yaitu siswa diminta untuk melakukan kegiatan meniup ke kaca kemudian dilihat hasilnya. Untuk pembuktian mengenai tumbuhan juga bernapas, siswa diminta untuk melakukan kegiatan menutup tumbuhan dengan plastic bening. Disini kita melihat adanya relevansi antara tujuan dan kegiatan yang dilakukan. Selain itu relevansi ini terdapat pula dalam kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa dapat dengan mudah mencari bahan/alat kegiatan dan mudah untuk memahami materi setelah melakukan kegiatan tersebut.
22.      Menjelaskan manfaat pengetahuan, keterampilan atau sikap serta nilai yang akan dipelajari dan bagaimana hal tersebut dapat diaplikasikan dalam pekerjaan dan kehidupan nanti. misalnya, Pada bahasan tentang kebutuhan makhluk hidup akan air diberikan penjelasan bahwa air sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup. Untuk aplikasi dalam kehidupan sehari-hari penulis menyarankan kepada para siswa apabila memiliki hewan peliharaan maupun tanaman hias di rumah harus secara teratur disiram atau diberi minuman agar dapat bertumbuh dengan baik dan tidak mati. Begitu pula  tentang kebutuhan makhluk hidup akan cahaya matahari, penulis menyarankan kepada siswa agar bila menanam tanaman tanamlah pada tempat terbuka yang cukup cahaya matahari, sebab tumbuhan memerlukannya untuk memasak makanan.
33.      Memberikan contoh, latihan atau tes yang langsung berhubungan dengan kondisi siswa. Dalam pemberian contoh, penulis selalu berusaha untuk memberikan contoh-contoh dari lingkungan yang terdekat dengan siswa dan yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya penulis sengaja memberikan visualisasi gambar salah satu jenis makhluk hidup yang sering dijumpai siswa yaitu ayam, kemudian penulis mengilustrasikan tentang kehidupan dan tingkah laku ayam tersebut mulai dari saat mencari makanan, bagaimana bila ayam tersebut bertemu dengan lawan jenisnya, sampai bagaimana ayam tersebut berkembang biak. Dengan memberikan contoh-contoh dari lingkungan sehari-harinya diharapkan siswa dapat lebih mudah untuk memahami materi pelajaran.

C.    Confidence (percaya diri)
Demi membangkitkan kesadaran yang kuat di dalam proses belajar mengajar siswa yang selama ini lebih banyak dikuasai guru (teacher’s centered) dan lebih memproduk penghafal kata-kata bukan pada kemampuan bagaimana belajar dan akhirnya setelah siswa tamat tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak ada kemampuan “problem solving” di tengah masyarakat yang plural heterogen dan banyak masalah, maka guru harus menggunakan strategi yang efektif.
Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam penyususnan bahan ajar ini adalah sebagai berikut:
1.      Meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman siswa. Dalam penyususnan bahan ajar ini penulis menyusun materi pembelajaran agar dengan mudah dipahami maka penulis memberikan berbagai ilustrasi gambar yang relevan, materinya di urutkan dari materi yang mudah ke sukar. Dengan demikian, siswa  merasa mengalami keberhasilan sejak awal proses pembelajaran.
2.      Dalam penyusunan kegiatan pembelajaran dilakukan ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut untuk mempelajari terlalu banyak konsep baru dengan sekaligus. Jadi pemberian contoh-contoh dimulai dari memberikan contoh-contoh dari kehidupan siswa atau dari hal-hal yang pernah dialami siswa. Sehingga siswa tidak akan merasa terlalu berat saat diberi sedikit demi sedikit suatu konsep baru. misalnya tentang kebutuhan akan cahaya matahari. Penulis terlebih dahulu menyebutkan kegunaan cahaya matahari untuk manusia karena setiap siswa akan merasakan kegunaan tersebut misalnya untuk mengeringkan pakaian yang basah, untuk menghangatkan tubuh kita. Setelah itu barulah penulis menyebutkan kegunaan matahari untuk tumbuhan. Disini penulis memberikan suatu konsep baru tentang fotosintesis yang membutuhkan cahaya matarari. Dengan pemberian konsep baru yang tidak langsung banyak diharapkan siswa lebih dapat memahami apa yang dipelajarinya.
3.      Meningkatkan harapan untuk berhasil, hal ini dapat dilakukan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan kriteria tes pada awal pembelajaran. Hal ini akan membantu siswa mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang diharapkan. 
4.      Menumbuhkan  kepercayaan diri siswa dengan menganggap siswa telah memahami konsep ini dengan baik serta menyebut kelemahan siswa sebagai hal-hal yang masih perlu dikembangkan. 

D.    Satisfaction (kepuasan)
Kepuasan yang dimaksud di sini adalah perasaan gembira, perasaan ini dapat menjadi positif yaitu timbul kalau orang mendapatkan penghargaan terhadap dirinya. Perasaan ini dapat meningkat kepada perasaan percaya diri siswa nantinya dengan membangkitkan semangat belajar diantaranya dengan: mengucapkan “baik”, “bagus” dan seterusnya bila peserta didik menjawab /mengajukan pertanyaan. Dalam bahan ajar ini penulis juga berusahan untuk menghadirkan pujian-pujian seperti itu agar siswa dapat benar-benar merasa puas dengan hasil belajarnya.  Ada semacam interaksi dengan siswa yaitu saan memberikan pertanyaan kepada siswa. Penulis menganggap siswa telah mengetahui konsep tersebut sehingga penulis memberikan pijian dengan jawaban “ya benar sekali”. Dengan pujian-pujian seperti ini diharapkan siswa dapat merasa senang untuk belajar.

FRAME TYPE ONE

I. PENDAHULUAN
Frame tipe 1 merupkan bentuk pembelajaran yang dikelompokkan secara strategi kognitif. Dalam strategi ini ada beberapa karakteristik yang memberikan gambar-gambar kasar besar sebagai tampilan visual. Ada beberapa informasi yang disampaikan secara intelektual dalam frame tipe 1 ini. Beberapa materi yang akan disampaikan yaitu definisi penerapan dan contoh, dan penyajian desain / penggunaan praktis dalam pembelajaran.

II. PEMBAHASAN
A. Definisi Penerapan, dan Contoh

Frame tipe 1 merupkan rancangan materi pelajaran yang diorganisasikan dan menggambarkan sebuah gagasan yang mendasar dari suatu bahan pelajaran. Frame-tipe 1 merupakan suatu struktur bahan bacaan yang menggambarkan sebuah gagasan mendasar dari suatu bahan bacaan (“gambar besar” dapat dalam bentuk matriks). Frame-tipe 1 dapat pula mempunyai makna sebagai sebuah kisi-kisi atau matriks atau kerangka dari suatu pengetahuan. Frame-tipe 1 merupakan strategi yang sangat tepat untuk memperoleh pemahaman atas sebuah bahan bacaan.
Frame-tipe 1 dapat mewakili struktur ilmu pengetahuan yang ada dalam pikiran penulis teks ilmiah dan dapat menciptakan suatu koherensi dalam dalam sebuah teks. Lebih lanjut, frame-tipe 1 direkomendasikan sebagai cara utama dalam mengkomunikasikan ilmu pengetahuan beserta strukturnya sehingga peserta didik dapat lebih memahami materi dan belajar daripadanya. Jadi, pembelajaran merupakan proses secara keseluruhan sehingga apabila ada pembelajaran yang tidak konsisten, maka akan cepat dilupakan oleh peserta didik. Menggunakan gambaran seperti frame tipe 1 dapat membantu kita dalam berbagai cara yaitu dapat membantu memenuhi struktur mana yang dapat dikelompokkan, memperlihatkan hubungan secara detail dan konsep secara keseluruhan dan memberikan sebuah panduan kepada peserta didik apa yang ada dalam materi pelajaran tersebut. Bagaimana pun juga frame tipe 1 merupakan suatu strategi kognitif yang digunakan untuk menyusun suatu metode pengajaran untuk individual maupun kelompok. Frame tipe 1 cocok digunakan untuk tingkat sekolah SMP, SMA, dan Universitas. Contohnya yaitu pada penerapan pembelajaran sains (biologi).
Fungsi dari Frame-tipe 1 adalah :
  1. Menampakkan sebuah struktur yang pekat-padat yang di dalamnya terdapat rincian yang terorganisasikan dengan baik yang memudahkan dalam pemahaman,
  2. Memaparkan sejumlah Materi saling berhubungan yang bermakna,
  3. Menyediakan isyarat atau petunjuk bagi siswa hal-hal terpenting dari suatu bahan pembelajaran

Frame-tipe 1 dapat mengambil bentuk matriks dua dimensi atau tiga dimensi dengan menampilkan aspek-aspek penting sebagai judul baris dan kolom. Frame-tipe 1 juga dapat mengambil bentuk: (1) tujuan , rencana, tindakan , hasil; (2) Masalah, Tindakan , Hasil; (3) Klasifikasi berdasarkan hasil observasi; (4) Interpretasi hasil observasi .
a. Bentuk frame tipe 1 matriks dua dimensi
b. Bentuk frame tipe 1 matrik 3 dimensi

Contoh penerapan pada pembelajaran sains (biologi)
1. Contoh pembelajaran dengan Frame-tipe 1 dalam bentuk skema

    Gambar 1. Skeme Pengelompokan Tumbuhan Biji
2. Contoh pembelajaran dengan Frame-tipe 1 dengan menampilkan gambar besar dan deskripsi

    Gambar 2. Susunan kerangka pada manusia
3. Contoh pembelajaran dengan Frame-tipe 1 dengan menampilkan gambar bentuk siklus
    Gambar 3. Siklus daur hidup paku dan siklus hidup ubur-ubur
4. Perhatikan ilustrasi gambar di bawah ini dalam pembelajarn mata pelajaran biologi dengan matriks dua dimensi. Terdapat label ide pokok dari kolom dan baris yang informasi tentang hubungan seluruh ide untuk dimasukan dalam tempat yang kosong pada matriks tersebut. Informasi dapat terdiri dari kenyataan, konsep, diskripsi, penjelasan, proses dan prosedur.
Contoh pembelajaran dengan Frame-tipe 1 dalam bentuk matriks dua dimensi
Gambar 4. Perbedaan antara eritrosit, leukosit dan trombosit

5. Contoh pembelajaran dengan Frame-tipe 1 dalam bentuk studi laboratorium
    Gambar 5. Prosedur/ proses kegiatan untuk membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan amilum
6. Contoh pembelajaran dengan Frame-tipe 1 dalam bentuk proses
     Gambar 6. Proses terjadinya hujan asam


B. Penyajian Desain / Penggunaan Praktis Dalam Pembelajaran
Kondisi yang tepat untuk menggunakan frame- tipe 1
1. Tepat untuk tugas-tugas yang bersifat integratif (bersifat holistik, informasi dengan jumlah relatif besar). Dengan Integrative/menggabungkan dapat membantu agar tugas-tugas pembelajaran yang sebagian besar bersifat holistic/menyeluruh atau membantu intelektual mengelola jumlah informasi yang relatif besar.
2. Tepat untuk jenis ilmu pengetahuan: deklaratif (informasi verbal: fakta, konsep, generalisasi); prosedural (keterampilan intelektual: pembedaan konsep, hukum, & hukum-hukum tingkat tinggi;
3. Tepat untuk ilmu pengetahuan dengan struktur sedang/menengah dan dalam konten chunking pada strategi serbaguna dan untuk kondisi strategi lainnya.

C. Bagaimana menyusun frame tipe 1?

  1. Langkah pertama yaitu melihat materi-meteri dalam pembelajaran untuk menemukan ide pokok, konsep dan prinsip.
  2. Langkah kedua, merancang dari materi pelajaran, materi tersebut harus ditulis dan dan diatur mengikuti frame dan strukturnya. Jika penulis materi mengikuti kerangka tersebut dalam cara-cara horizontal (baris) dan vertical (kolom) dapat menjadi hal yang utama.
  3. Langkah ketiga, adalah memutuskan apakah bahan tersebut perlu menggunakan matrik atau tidak
  4. Langkah keempat adalah menggambarkan kerangka dan menamai atau melabeli kolom dan baris tersebut.


D. Kapan Seharusnya Frame Tersebut Digunakan?
Frame membantu para pebelajar dalam proses pembelajaran pada awal pembelajaran, selama proses pembelajaran, dan pada akhir pembelajaran (selama pengulangan). Dalam frame dikembangkan selama pembelajaran tersebut dan dapat digunakan untuk belajar dan pengulangan.
Para siswa dapat belajar untuk membuat frame. Frame tersebut dapat merupakan suatu variasi dalam pelajaran sejarah, ilmu sosial, kedokteran dan biologi.
Kita perlu mempelajari bermacam-macam strategi kognitif tidak hanya karena semua strategi sesuai bagi semua isi, tapi juga karena para siswa perlu untuk mempelajari semua strategi untuk menjadi kecerdasan metakognitif. Strategi yang sesuai untuk karakter materi, termasuk struktur, mungkin dapat menghindarkan rasa bosan karena strategi yang lain mungkin akan lebih sesuai sebagai satu materi yang baru. Guru perlu memberikan pembelajaran yang meliputi latihan-latihan. Tujuan penting adalah kecanggihan metakognitif
Frame tersebut dapat membantuan bagi kelompok diskusi, baik dalam penyusunan frame tersebut dan melengkapi frame. Frame dapat memberikan penekanan pada penciptaan ide dan evaluasi baik secara individu maupun kelompok. Untuk penulisan, frame tersedia untuk membantu beberapa keperluan penulis baru. Para guru saat ini menggunakan frame cerita sebagai satu bantuan untuk pengajaran menulis. Pembuatan frame mempermudah dalam penulisan.

D. Hibridisasi
Frame-tipe 1 dapat dikombinasikan dengan strategi yang lainnya. Siswa dapat menggunakan frame sebagai perbandingan, khususnya jika materi tersebut meliputi frame yang cukup konkret. Ketika dalam pembelajaran materi tersebut tidak dapat dibandingkan, para siswa mungkin akan menggunakan hafalan.
Frame-tipe 1 direkomendasikan sebagai cara utama dalam mengkomunikasikan ilmu pengetahuan beserta strukturnya sehingga peserta didik dapat lebih memahami materi dan belajar.


III. PENUTUP
Frame-tipe 1 merupakan suatu struktur bahan bacaan yang menggambarkan sebuah gagasan mendasar dari suatu bahan bacaan (“gambar besar” dapat dalam bentuk matriks). Frame-tipe 1 dapat pula mempunyai makna sebagai sebuah kisi-kisi atau matriks atau kerangka dari suatu pengetahuan.
Frame-tipe 1 merupakan strategi yang sangat tepat untuk memperoleh pemahaman atas sebuah bahan bacaan. Frame-tipe 1 dapat mewakili struktur ilmu pengetahuan yang ada dalam pikiran penulis teks ilmiah dan dapat menciptakan suatu koherensi dalam dalam sebuah teks. Lebih lanjut, frame-tipe 1 direkomendasikan sebagai cara utama dalam mengkomunikasikan ilmu pengetahuan beserta strukturnya sehingga peserta didik dapat lebih memahami materi dan belajar daripadanya.

Sabtu, 25 Juni 2011

PEMBELAJARAN TERPADU MODEL CONNECTED (HUBUNGAN/TERKAIT)

A. Pendahuluan
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang mengubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Jika dibandingkan dalam konsep konvensional, maka pembelajaran terpadu tampak lebih menekankan keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan. Setiap siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bakal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar di sekolah. Oleh karena itu pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal siswa dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan.
Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik, dan unit tematisnya, menurut Robin Fogarty (1991) terdapat sepuluh cara atau model dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model tersebut adalah: (1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, dan (10) networked. Dalam bab ini akan dibahas mengenai pembelajaran terpadu model connected yang merupakan pembelajaran yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas dilakukan pada satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.

B. Pembelajaran Terpadu Model Connected
Dalam setiap mata pelajaran berisi konten yang berkaitan antara topik dengan topik, konsep dengan konsep, maka sebenarnya dapat dikaitkan secara eksplisit. Satu disiplin dapat memfokuskan sub-sub yang saling berkaitan
Pembelajaran terpadu model keterhubungan (connected model) menurut Fogarty adalah : “model focuses on making explicit connections with each subject area, connecting one topic to the next, connecting one concept to another, connecting a skill to relatied skill, connecting one day’s work to the next, or even one semester’s ideas to the next”. Pengertian tersebut menunjukkankan bahwa fokus model connected adalah pada keterkaitan dalam seluruh bidang, keterkaitan antar topik, keterkaitan antar konsep, keterkaitan antar keterampilan, mengaitkan tugas pada hari ini dengan selanjutnya bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.
Model pembalajaran ini menyajikan hubungan yang eksplisit di dalam suatu mata pelajaran yaitu menghubungkan satu topic dengan topic yang lain, satu konsep ke konsep yang lain, satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, satu tugas ke tugas yang
berikutnya. Pada pembelajaran model ini kunci utamanya adalah adanya satu usaha sadar untuk menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu.
Bila kita memandang konsep koneksi ini, rincian dari satu disiplin ilmu terfokus kepada bagian-bagian yang sebenarnya saling berhubungan. Sehingga akan terjadi serangkaian materi satu menjadi prasarat materi berikutnya atau satu materi mendukung materi berikutnya, atau materi satu menjadi prasarat atau berhubungan sehingga apa yang dipelajari menjadikan belajar yang bermakna. Sebagai catatan kaitan antar konsep, topik, atau tema terjadi hanya pada satu mata pelajaran.
Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus-menerus.
Secara umum proses pembelajaran sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh tiga faktor masukan, yaitu raw input, instrumental input, dan environmental input. Demikian halnya dengan pembelajaran terpadu connected, maka sistem itu dapat digunakan. Raw input terdiri dari guru dan siswa, maksudnya kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengetahuan guru tentang pembelajaran terpadu model connected maupun pengalaman mengajar guru. Selanjutnya kemampuan, sikap, minat dan motivasi merupakan faktor siswa yang akan berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. Instrumental input merupakan acuan dalam pengembangan pembelajaran terpadu model connected, berdasarkan pada undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri (Kurikulum, SKL, dan SKKD) maka guru mengembangkan model pembelajaran. Dalam enviromental input, lingkungan yang berpengaruh pada kegiatan pembelajaran adalah ketersediaan sarana prasarana dan dukungan dari masyarakat baik moral maupun material (Nurrudin Hidayat, 2009:18).

Contoh:
- Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan konsep jual beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.
- guru menghubungkan konsep pecahan dengan desimal, dan pecahan dengan uang, tingkatan, pembagian, rasio, dan sebagainya



C. Kelebihan Model Connected
Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut :
1. dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.
2. siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi.
3. menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.


D. Kekurangan Model Connected
Di samping mempunyai kelebihan, model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai berikut :
1. masih kelihatan terpisahnya antar bidang studi, walaupun hubungan dibuat secara eksplisit antara mata pelajaran (interdisiplin).
2. tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi,
3. memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan.




E. Kapan Kita Menggunakan Model Connected?
Model ini digunakan sebagai permulaan kurikulum terpadu. Guru merasa percaya diri mencari keterhubungan dalam mata pelajaran mereka (jika guru bidang studi). Mereka menjadi mau mengadaptasikan hubungan ide-ide dalam mata pelajaran yang menyeberang. Pembuatan keterhubungan juga diselesaikan secara kolaborasi dalam pertemuan guru (departement meeting) dalam hal ini dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) yang dapat terjadi lebih famillier. Guru dapat memulai model ini sebelum memasuki keterpaduan yang lebih kompleks.

💻 ICT Transforming Education: Mengajar di Tengah Revolusi Digital

    Halo, pembaca setia  Teknologi dan Hati ! 🌷 Minggu ini saya akan sedikit sharing mengenai materi mata kuliah  Pembelajaran Berbasis TIK...