Halo, pembaca setia Teknologi
dan Hati! 🌷
Minggu ini saya akan sedikit sharing
mengenai materi mata kuliah Pembelajaran Berbasis TIK, kami
mempelajari buku “ICT Transforming Education” karya Jonathan
Anderson — sebuah panduan penting dari UNESCO yang membahas bagaimana teknologi
informasi dan komunikasi (ICT) telah mengubah wajah pendidikan di
seluruh dunia, terutama di kawasan Asia-Pasifik.
🌍 ICT: Lebih dari Sekadar Komputer
Buku ini membuka pandangan bahwa ICT
bukan hanya tentang komputer dan internet. ICT meliputi semua alat yang
membantu manusia mengumpulkan, menyimpan, memproses, dan berbagi
informasi — mulai dari smartphone, kamera digital, hingga papan tulis
interaktif. Dengan kata lain, ICT bukan sekadar “alat bantu mengajar,”
melainkan ekosistem yang membentuk cara baru kita belajar dan
berinteraksi.
🧩 Transformasi Peran Guru dan Siswa
Salah satu bagian yang paling saya
refleksikan adalah pergeseran peran guru dan siswa.
- Dulu, guru adalah sumber utama
pengetahuan.
- Sekarang, guru menjadi fasilitator yang
membimbing siswa untuk menemukan dan menafsirkan informasi secara mandiri.
Sementara itu, siswa kini bukan lagi
penerima pasif, tetapi pencipta pengetahuan (knowledge creator) melalui
aktivitas kolaboratif dan eksplorasi digital. Saya melihat bahwa peran guru di
era ini justru menjadi lebih penting — bukan karena ia
menyampaikan semua jawaban, tetapi karena ia membantu siswa menemukan
pertanyaan yang tepat.
🚀 Revolusi Keempat dalam Pendidikan
Buku ini menyebut munculnya “revolusi
keempat” — di mana pembelajaran tidak lagi terikat ruang dan waktu.
Konsep seperti:
- e-learning (pembelajaran
elektronik),
- m-learning (pembelajaran melalui
perangkat seluler), dan
- u-learning (pembelajaran di mana
saja dan kapan saja)
menjadi kenyataan dalam kehidupan kita saat ini.
Melalui internet, Google, YouTube,
Wikipedia, hingga media sosial, pendidikan telah menjadi jaringan
global yang membuka peluang belajar tanpa batas.
⚖️ Kesenjangan Digital di Asia-Pasifik
Namun, tidak semua negara menikmati
kemajuan yang sama.
Jonathan Anderson menyoroti
adanya digital divide — kesenjangan antara mereka yang
memiliki akses ICT dan yang tidak.
- Negara seperti Singapura dan Korea Selatan sudah
mencapai indeks ICT di atas 95,
- sementara Indonesia masih berada di kisaran 84,7 (kategori upper
middle income).
Kesenjangan ini tidak hanya soal
akses internet, tetapi juga kualitas penggunaan teknologi. Apakah
teknologi digunakan hanya untuk hiburan, atau untuk membangun keterampilan
berpikir kritis dan kreativitas?
💡 Keterampilan Abad ke-21: 4C
Buku ini menekankan pentingnya
keterampilan 4C bagi siswa abad ke-21:
- Critical Thinking – berpikir kritis dan
analitis,
- Creativity – menghasilkan ide dan
solusi baru,
- Collaboration – bekerja bersama dalam
lingkungan digital,
- Communication – mengomunikasikan
gagasan secara efektif.
Sebagai pendidik, saya merasa
tantangan kita sekarang bukan lagi sekadar mengenalkan teknologi, tetapi mengarahkan
penggunaannya agar membentuk manusia yang kreatif, adaptif, dan beretika
digital.
💬 Refleksi Pribadi
Setelah mempelajari materi ini, saya
semakin yakin bahwa teknologi hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir.
Kunci transformasi pendidikan tetap
berada di tangan guru — bagaimana kita menyalurkan teknologi dengan hati,
empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti kata Jonathan Anderson, “Education
is not only about information, but transformation.”
📂 Materi Lengkap (PDF)
Untuk teman-teman yang ingin membaca
lebih detail ringkasan Bab 1–2 buku ICT Transforming Education,
dapat mengunduhnya di tautan berikut:
📎 https://drive.google.com/file/d/1selkgXs8D9G3QXAEHbPs26TTrfOXMOkr/view?usp=sharing
