Dunia pendidikan sedang berubah dengan sangat cepat. Kita hidup di masa ketika teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Platform pembelajaran daring, aplikasi kolaboratif, kecerdasan buatan—semuanya hadir membawa peluang besar bagi dunia pendidikan.
Namun di tengah semua kemajuan itu, saya sering merenung: apakah kemajuan teknologi selalu sejalan dengan kemajuan hati manusia?
Sebagai pendidik, saya percaya bahwa teknologi hanyalah jembatan. Ia memudahkan kita menjangkau peserta didik, membuka akses informasi tanpa batas, dan menciptakan pengalaman belajar yang menarik. Tapi yang menumbuhkan makna, semangat, dan empati tetaplah hati manusia.
Dalam setiap interaksi di kelas—baik tatap muka maupun daring—saya belajar bahwa sentuhan personal, perhatian kecil, dan empati guru masih menjadi inti dari pendidikan yang sejati. Teknologi bisa membantu saya mengajar lebih efektif, tapi hati yang tuluslah yang membantu saya membimbing lebih manusiawi.
Melalui blog ini, saya ingin berbagi perjalanan saya sebagai pembelajar sepanjang hayat: tugas-tugas perkuliahan S3, refleksi pribadi, serta berbagai gagasan tentang bagaimana teknologi dan hati bisa berjalan beriringan dalam mendidik generasi masa depan.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tapi juga tentang menyentuh kehidupan dan membentuk karakter.
Selamat datang di blog saya — Teknologi dan Hati: Mendidik di Era Digital. 💻💖

Tidak ada komentar:
Posting Komentar